"Perang Dingin" Sesama Pemasok Miras

Hayo, Siapa Pembawa Miras Ilegal ke Kota Madani Pekanbaru? Baca !

Penulis : user | Sabtu, 15 November 2014 - 23:52 WIB

Ilustrasi | Beritariau.com 2014

Beritariau.com, Pekanbaru - Bagi yang baru mengikuti berita ini, ada baiknya baca dulu berita sebelumnya [Baca Lengkap : Tau Ga, Miras Masuk Secara Ilegal di Pekanbaru loh ! Cekidot...] .

Nah, kita ulas lagi pokok permasalahan soal minuman beralkohol (minol) alias minuman keras (miras). Di kota bertuah Pekanbaru, ada yang beredar dengan dilekati pita cukai dan ada yang tidak.

Dan, meski dilekati pita cukai, ada yang menjual tanpa mengantongi Nomor Pokok Pengusaha Barang Kena Cukai (NPPBKC) dari Kantor Bea Cukai. Nomor itu sangat penting didapatkan setelah Surat Izin Usaha Perdagangan Minuman Beralkohol (SIUP-MB) keluar dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag).

Yang menarik adalah, bagaimana miras itu bisa sampai ke kota Pekanbaru yang diberi label "Kota Madani"? Siapa yang membawa.

Sebab, di Pekanbaru belum ada satu pun pelabuhan khusus resmi untuk aktivitas bongkar muat barang jenis miras meski dilekati pita cukai. Apalagi miras tanpa pita cukai, sudah barang tentu ilegal.

Informasi itu dibenarkan oleh Bea Cukai, namun, Bea Cukai sejauh ini mengaku belum mengetahui asal muasal dari mana datangnya miras-miras itu ke Pekanbaru, baik jalur darat maupun jalur perairan.

"Untuk jalur perairan, hingga kini, kita belum ada mengeluarkan surat izin pelabuhan resmi bongkar muat minuman beralkohol," kata Humas Bea dan Cukai, Ali Winoto kepada Beritariau.com, Selasa (04/11/14) lalu.

Hasil penelusuran Beritariau.com soal ini, ada fakta yang cukup mengejutkan, dimana aktivitas ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Hal ini juga diuntungkan dari geografis Pekanbaru yang disinggahi aliran sungai yang bermuara ke laut.

Sebelum masuk ke cerita ini. Masih ingat gak kisah Tjin Lam alias Alam Gula pada Februari 2008 lalu ?

Saat itu, Direktur V Bareskrim Bidang Tindak Pidana Tertentu (Tipiter) Mabes Polri yang dijabat oleh Brigjen Pol Hadiatmoko (kini Inspektur Jenderal), berhasil membongkar penyelundupan aneka barang dari luar negeri berupa eletronik, garmen, tekstil dan sembako.

Hampir 2000 ton barang selundupan disita dari Kapal Motor (KM) Rezeki Bersama, KM Bima Sakti dan KM Citra Indah Jaya serta gudang. Atas prestasi itu, tak lama kemudian, pada Mei 2008, Hadiatmoko diangkat menjadi Kapolda Riau menggantikan Brigjen Pol Sutjiptadi.

Rupanya, peristiwa itu ternyata cukup membekas bagi beberapa pelaku usaha yang sama dengan Alam Gula. Meski beberapa aktivitas serupa berjalan, namun, dilakukan dengan hati-hati dan tidak dalam jumlah besar. Bahkan, rute dan lapak bongkar muat pun alias pelabuhan "tikus", dipindahkan.

Benar, kata kuncinya adalah "Penyelundupan". Nama surat jalan bisa saja diatur dengan menuliskan "sembako". Memang ada sembako yang dibawa. Tapi, setelah sembako dibongkar dari kapal, giliran minol atau miras yang dibongkar dibawah tumpukan sembako.

Sumber Beritariau.com yang enggan disebutkan namanya menyebutkan, untuk mengurangi kecurigaan warga dan penegak hukum, sejumlah pelabuhan tikus yang baru juga dibuka.

Ada yang diantara aliran sungai Siak yang dekat dengan Pekanbaru, ada juga di pelabuhan "tikus" di sekitar Perawang Kabupaten Siak. Bahkan, beberapa tahun lalu, titik bongkar muatnya cukup dekat dengan pusat kota yakni dibawah jembatan Leighton III.

Sayang, atas alasan keamanan, sumber ini tak mengizinkan foto-foto yang sempat diambilnya itu untuk dimuat.

"Biasanya kapal itu dibongkar setiap hari Jumat. Pertama, yang dikeluarkan adalah Spring Bed dan berikutnya minol," katanya kepada Beritariau.com, Rabu (12/11/14).

Kapalnya disebut KM JSN (inisial). Pemilik miras yang diketahui sebagai pemasok ke sejumlah pusat hiburan malam di Pekanbaru itu, berinisial LK. Rutenya, dari luar negeri, melalui kota Selat Panjang Kepulauan Meranti lalu ke Pekanbaru.

Namun, sejak jembatan Leighton III itu dibangun, aktivitas pembongkaran tak lagi disitu. Meski tak mengetahui lapak baru, namun Ia memberikan nomor kontak orang yang mengetahui informasi terbaru. Saat nomor itu dikontak, sumber kedua ini mengaku sedang diluar kota.

Rasanya belum cukup. Beritariau.com pun mencoba menelusuri lagi. Nama LK ini memang cukup dikenal. Bahkan, diketahui memiliki sebuah kawasan hiburan di Pekanbaru.

"Setahu saya, bisnis dia (LK) semuanya legal atau sah," hanya kalimat itu yang disampaikan oleh salah satu orang yang mengenal LK kepada Beritariau.com.

Dari penelusuran lainnya, ternyata tak hanya LK, ada juga "toke" alias bos lain yang membawa miras ke Pekanbaru. Sekaligus, sebagai pemasok ke beberapa hiburan malam. Orang ini, cukup dikenal di kalangan pelaku usaha ekspedisi.

SM, demikian si pengusaha ekspesi ini dikenal. Diduga, ia tak bekerja sendiri. Ada "toke" besar dibelakangnya yang cukup dikenal di dunia hiburan malam pekanbaru apalagi didukung oleh pemain lama di dunia "penyelundupan".

Cara kerja SM ini cukup menarik. Info yang didapat, minol mereka tak langsung ke Pekanbaru. Namun, di kirim via laut melalui pelabuhan di Kota Dumai. Lalu, dibawa dengan truk kontainer dan dibongkar di sebuah gudang besar di kawasan Rumbai Pekanbaru. Dan, dibawa dengan truk biasa kepada para pemesan baik di Pekanbaru, kota-kota lainnya, bahkan Jakarta.

Dirjen Bea Cukai Mulai Mengendus

Sedikit demi sedikit, ternyata operasi ini mulai terendus. Temuan Beritariau.com ini, akhirnya diperkuat atas penangkapan puluhan truk di Pelabuhan Merak, Provinsi Banten oleh Direktorat Jenderal (Ditjen) Bea dan Cukai bidang Penindakan sepekan yang lalu .

Dari info yang didapat, sekitar 37 truk bermuatan miras yang melintasi Pulau Sumatera menuju Jakarta terendus bea dan cukai. Total yang ditangkap sekitar 29 truk yakni, di Palembang 4 truk, Lampung 14 truk dan pelabuhan Merak 11 truk. Sedangkan 8 truk lagi, menurut informasi berhasil lolos.

Miras-miras itu dibawa dari beberapa pelabuhan yakni, Dumai, Tembilahan, Jambi, Palembang dan Lampung.

Belum diketahu persis berapa truk yang dari Pelabuhan Dumai. Hingga berita ini diturunkan, Kepala Humas Bea Cukai Pusat Martediansyah yang dihubungi Beritariau.com ke selulernya tak berhasil. Sama halnya dengan Kepala Bea Cukai Kota Dumai, Dwijo. Nomor selulernya bahkan tak aktif.

Info yang didapatkan, sekitar 3 truk yang diamankan Bea Cukai itu, milik LK. Namun, hal ini dibantah oleh orang dekat LK. "Wah, saya ga tau soal itu. Kita baru dengar," katanya.

Selain LK, kelompok SM juga diduga terlibat. Pasalnya, dari informasi yang didapat, sebagian truk yang ditangkap itu, sempat dibongkar di kawasan Rumbai Pekanbaru. Sebab, dari penangkapan itu, truk ekspedisi bernama GJSI yang digunakan itu, dikenal merupakan kelompok SM. Namun, kelompok SM juga membantah.

Meski belum ada keterangan resmi pengiriman puluhan truk itu untuk siapa, kuat dugaan, miras itu pesanan kelompok dedengkot hiburan malam di Jakarta.

Saat penelusuran ini, juga beredar isu bahwa ada kelompok tertentu yang ingin memonopoli alias "menguasai" peredaran dan penjualan miras di Riau khususnya Pekanbaru. Dikabarkan, kelompok LK dan SM Cs saat ini sedang berebut jalur utama peredaran. Bisa dikatakan, LK dan SM sedang "perang dingin".

Nah, apakah ada oknum aparat bea cukai maupun aparat hukum yang ikut-ikutan, silahkan tanggapi sendiri. Berita ini untuk informasi, edukasi dan referensi bagi pemerintah dan penegak hukum. Tunggu berita di perkembangan selanjutnya. Inilah realita di Riau. [TIM]

Laporkan Berita dan Peristiwa Sekitar Anda ! SMS ke : 081378705055 atau ke alamat email : redaksi@beritariau.com (harap lampirkan identitas diri).


Berita Terkait :

Komentar Via Facebook :