3 Tersangka dari BNI dan 1 dari BPN Belum Ditahan

Ssst... Ada Dugaan Pencucian Uang pada Kasus Korupsi 40 Milyar Kredit Fiktif BNI 46 Pekanbaru

Penulis : user | Kamis, 14 Agustus 2014 - 21:05 WIB

Ilustrasi Pelaku Tindak Kejahatan Korupsi dan Perbankan | Beritariau.com 2014

Beritariau.com, Pekanbaru - Kasus dugaan Korupsi Kredit dengan agunan Fiktif PT Bank Negara Indonesia (BNI) 46 yang merugikan negara senilai 40 Milyar Rupiah kini ditingkatkan menjadi Dugaan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU). Namun, babak baru penyidikan kasus ini lebih difokuskan pada pihak Debitur (penerima fasilitas kredit).

"Laporan Polisi (LP) nya baru kita buat. Ini hasil pengembangan kasus Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Kredit yang masih berjalan," kata Kepala Sub Direktorat (Kasubdit) II Reserse Kriminal Khusus (Reskrimsus) Polda Riau, AKBP Andi Rifai kepada Beritariau.com, Kamis (14/08/2014).

Namun dalam Kasus TPPU kali ini, lanjut Andi Rifai, lebih difokuskan kepada Debitur selaku penerima dana. "Kita temukan sejumlah dugaan mengarah kesana (TPPU) yang dilakukan Debitur," kata Andi.

Dalam pengembangan kasus dan pemeriksaan saksi-saksi saat persidangan yang mengikutkan tiga terdakwa dari BNI 46 cabang Pekanbaru yakni ABC Manurung, Atok dan Dedi Syahputra, Esron Napitupulu diduga menjadikan sejumlah lahan fiktif sebagai agunan ke bank BNI 46. Bahkan, dalam proses pengajuan, lahan tersebut ternyata atas nama orang lain.

Diberitakan sebelumnya, ternyata dana 40 Milyar tersebut bukan digunakan untuk tujuan awal pemberian fasilitas kredit yakni Refinancing Kebun. Namun, digunakan untuk membeli kebun baru, investasi proyek baru dan keperluan pribadi.

Sementara itu, terkait penahanan 3 (tiga) dari 4 orang tersangka baru hasil pengembangan yakni, AF selaku mantan Kepala Wilayah Sumatera BNI 46 tahun 2007, YW selaku mantan Kepala Wilayah tahun 2008 dan AS selaku mantan Staf Administrasi yang merupakan bawahan kedua mantan pimpinan tersebut, Andi Rifai menyatakan ketiganya masih kooperatif dan saat ini berada di Jakarta.

Selain 3 pejabat Wilayah Sumatera (Provinsi Riau, Provinsi Kepulauan Riau, Provinsi Sumatera Barat, dan Provinsi Jambi, red) BNI tersebut, penyidik juga menetapkan seorang tersangka lainnya yakni inisial T selaku staf di Badan Pertanahan Nasional.

"Sejak jadi tersangka, mereka sudah beberapa kali kita panggil untuk diperiksa. Ketiga tersangka dari BNI itu terkait penyalahgunaan wewenang mengeluarkan kebijakan atau persetujuan kredit," ujar Andi.

Selain 4 tersangka tersebut, Andi Rifai rencananya akan menetapkan 1 (satu) orang tersangka baru dari unsur pegawai pemerintah. "Ada bukti yang mengarah ke calon tersangka itu," kata Andi.

Status 2 orang tersangka, AF dan YW selaku mantan pimpinan wilayah BNI 46 tersebut, dikonfirmasi kepada Humas PT BNI 46 Wilayah Yudi Darmawan, sudah pensiun. Sedangkan, tersangka AS, mantan staf administrasi masih bekerja di Pekanbaru. "Keduanya sudah pensiun. Kalau AS masih bekerja," kata Yudi kepada Beritariau.com.

Seperti diketahui, kasus ini bermula dari laporan polisi nomor : STPL/1403/XII/2007/POLTABES pada 04 Desember 2007 di Pekanbaru.

Pada laporan tersebut, Dirut PT BRJ, Esron Napitupulu dan Amat Rahmat Hidayat, mantan Kepala Dusun B, Desa Sako Margasari, Kecamatan Logas Tanah Darat, Kabupaten Kuansing dengan bantuan rekan-rekannya beserta sejumlah "orang dalam" di PT BNI 46 dengan mudah sukses membobol uang negara dan nasabah (masyarakat) sebanyak 40 Milyar Rupiah melalui PT BNI 46 Pekanbaru Cabang Jalan Nangka Pekanbaru.

Alhasil, berbekal Cover Note (surat keterangan Notaris) dan lahan agunan seluas 1004 hektar yang diduga fiktif tersebut, jajaran direksi PT BNI 46 melalui kantor Cabang Nangka Pekanbaru memuluskan pinjaman PT BRJ tersebut dan mencairkan dana secara bertahap. [roy]

Laporkan Berita dan Peristiwa Sekitar Anda ! SMS ke : 081378705055 atau ke alamat email : redaksi@beritariau.com (harap lampirkan identitas diri).


Berita Terkait :

Komentar Via Facebook :