Pemerintah Ajukan Syarat Khusus ke Chevron

Pasca 2021, ladang minyak di Riau akan tetap dikelola Chevron?

Penulis : admin | Jumat, 09 Juni 2017 - 20:37 WIB

ilustrasi

Beritariau.com, Jakarta - Sejumlah perusahaan migas harus siap menerima keputusan pemerintah terkait ladang minyak terbesar di Indonesia yakni Blok Rokan yang ada di Riau.

Pasalnya, jelang berakhirnya masa Production Sharing Contract atau masa kontrak PT Chevron Pacific Indonesia (CPI) pada tahun 2021 mendatang, pemerintah sudah memberi sinyal akan tetap menyerahkan pengelolaan ladang minya itu kepada Chevron.

Pemerintah beralasan, pengajuan penawaran ini dilakukan jauh hari untuk menjaga kepentingan investasi di Indonesia.

"Chevron bisa kembali menggarap Blok Rokan dengan catatan menggunakan skema gross split, bukan dengan cost recovery," kata Deputi Pengendalian Pengadaan SKK Migas Djoko Siswanto di Jakarta, Rabu (07/06/17) seperti dilansir eksplorasi.id‎.

Penjelasan Djoko, rencana tersebut sudah disampaikan kepada manajemen Chevron. Pihak Chevron kini sedang melakukan proses perhitungan keekonomisan.

Tujuan pemberian kembali pengelolaan Blok Rokan kepada Chevron adalah untuk menjaga produksi migas nasional. Selain itu, untuk mengurangi beban PT Pertamina (Persero) yang sudah memeroleh Blok Mahakam dan delapan blok terminasi yang lain.

"Chevron itu kemungkinan akan kami perpanjang, jadi tidak ke Pertamina. Kami lagi minta mereka, karena mereka punya hak untuk lakukan perpanjangan tetapi pakai gross split dan sekarang lagi hitung,” ujar dia.

Menurut Djoko, pihaknya optimistis Chevron akan menerima tawaran pemerintah tersebut. Berdasarkan hitungan, bila menggunakan cost recovery perusahaan hanya mendapat sembilan persen. Namun, jika menggunakangross split, tahap awal saja perusahaan sudah mendapat 43 persen.

"Kalau Chevron menolak saya yakin banyak yang tertarik menggarap Blok Rokan, apalagi dengan kisaran produksi yang mencapai 250 ribu barel per hari (bph)," jelas dia.

Untuk diketahui, jelang berakhirnya masa kontrak Chevron di Blok Rokan, sejumlah pihak telah menyatakan minatnya untuk menjadi pengelola. Selain PT Pertamina Persero, Pemerintah Provinsi Riau melalui BUMD nya juga menyatakan kesiapan. Blok Rokan sendiri memiliki dua ladang minyak raksasa yakni di Minas dan Duri.

Dimana, ladang minyak di Minas merupakan terbesar di Asia Tenggara, yang telah memproduksi 4,5 Milyar barel sejak berproduksi tahun 1970. Bahkan, pernah tercatat memproduksi 1 juta barel per hati (bph).

Selanjutnya, juga Djoko berpendapat, rencana pemberian kembali Blok Rokan ke Chevron tidak menyalahi aturan.

"Blok terminasi tidak diberlakukan opsional tetapi diwajibkan untuk gross split, sehingga siapa pun yang akan menggarap Blok Rokan harus menggunakan skema gross split,” katanya. [red]‎‎

Laporkan Berita dan Peristiwa Sekitar Anda ! SMS ke : 081378705055 atau ke alamat email : redaksi@beritariau.com (harap lampirkan identitas diri).


Berita Terkait :

Komentar Via Facebook :