Ujung-ujungnya Minta Uang

Murtini Bohong, Mengaku Dosen Tunanetra di UNRI Berkeliling Indonesia

Penulis : admin | Kamis, 09 Oktober 2014 - 21:27 WIB

Murtini saat mengunjungi Kantor Kesbangpol Kendal, Kamis (9/10/2014) | Slamet Priyatin | Kompas.com | Beritariau.com 2014

Beritariau.com, Pekanbaru -  Seorang perempuan tua berjilbab penyandang tunanetra yang mengaku melakukan perjalanan keliling Indonesia bertujuan ingin mengetahui pelayanan publik baik di kepolisian, TNI, maupun pejabat di tingkat pemerintahan kabupaten/kota, terhadap penyandang tunanetra. Ia ingin memperoleh gelar Profesor, sebab Murtini, demikian namanya, mengaku sudah meraih gelar Doktor.

"Nama saya Murtini, saya mau bertemu dengan kepala Kesbangpol Kendal," ujar Murtini kepada Marki, salah satu staf pegawai Kantor Kesatuan Kebangsaan dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Kendal, setibanya didepan kantor itu, seperti dilansir Kompas.com, Kamis (9/10/14) sore.

Datang dengan mengendarai becak, usai turun, Murtini dipapah oleh tukang becak menuju pintu masuk kantor Kesbangpol Kendal dengan memakai pakaian biru tua dan jilbab putih. Menyambut Murtini, Marki pun menemaninya menuju ruang Kepala Kantor. Namun sayang, orang yang ia cari ternyata sedang menjalankan tugas di luar. Meski begitu, ia tetap dilayani oleh staf Kesbangpol.

Kepada mereka, Murtini mengaku sebagai dosen di Universitas Riau (UNRI), datang ke Kendal untuk melakukan kunjungan ke beberapa kantor instansi pemerintah, yakni Kesbangpol, Satpol PP, Kantor Kecamatan, Pengadilan Negeri, Kejaksaan Negeri, dan lainnya.

"Saya dosen Universitas Riau. Tujuan saya melakukan perjalanan keliling Indonesia untuk memperoleh gelar profesor dan untuk mengetahui tingkat pelayanan publik terhadap penyandang tunanetra," kata wanita tua kelahiran Palembang, 19 Maret 1958, ini. Dalam surat perjalanan yang ditunjukkannya, Ia berdomisili di Kampung Pinang Kelurahan Pinang Tangerang Selatan.

Dari hasil kunjungan ini, Murtini menyimpulkan, ada beberapa kantor yang belum memberikan pelayanan publik secara maksimal, terutama kantor-kantor di pemerintah daerah. Sementara itu, kantor Pengadilan Negeri, Kejaksaan, dan Pertanahan dinilainya sudah berjalan dengan baik.

Menurut Murtini, pelayanan publik di pemerintah daerah belum maksimal karena rendahnya sumber daya manusia (SDM). Untuk itu, pemerintah perlu memperbaiki SDM agar pelayanan publik berjalan maksimal.

Raih Rekor Muri

Tak hanya mengaku sebagai Doktor yang ingin meraih gelar Profesor, Murtini juga mengatakan bahwa ia memulai perjalanan keliling Indonesia pada tahun 2007 silam. Dia memulai perjalanan dari Sabang, Nanggroe Aceh Darussalam. Aksi perjalanan ini, sempat meraih penghargaan Museum Rekor Indonesia-Dunia (Muri). Hingga kini, ia mengaku sudah ada puluhan daerah yang disinggahi.

"Dari daerah satu ke daerah lain, saya menggunakan pesawat terbang, bus, dan kadang kereta api. Tidurnya saya di hotel dan losmen," ujarnya.

Murtini telah menyiapkan uang Rp 200 juta untuk bekal selama perjalanan itu. Uang itu disimpan di bank. Jika membutuhkannya, ia tinggal mengambil lewat ATM. Untuk mengambil uang lewat ATM, istri seorang tentara itu meminta bantuan kepada petugas bank.

"Keinginan saya melakukan perjalanan keliling Indonesia sebenarnya tidak disetujui oleh keluarga. Bahkan, keluarga sempat mengurung saya di dalam rumah agar tidak melakukan perjalanan itu," ujarnya.

Ibu yang mengaku pernah dikira sebagai seorang peminta-peminta saat berada di salah satu kantor pemerintahan daerah itu mengaku memaklumi larangan keluarganya, mengingat bahwa dirinya adalah penyandang tunanetra.

"Kabupaten Kendal ini adalah daerah terakhir yang saya kunjungi. Setelah ini, saya pulang ke Tangerang," kata Murtini, yang sudah 2 hari ini berada di Kendal dan tidur di Hotel Melati, Jalan Soekarno-Hatta, Kendal.

Penyebab Murtini buta

Dalam kesempatan itu, Murtini menceritakan bahwa kebutaan yang dia alami bukan bawaan lahir, melainkan akibat kecelakaan. Pada tahun 2004 silam, kendaraan yang ditumpanginya, bersama sejumlah dosen untuk menghadiri seminar tentang kurikulum, mengalami kecelakaan di Puncak, Jawa Barat. Kecelakaan tersebut menyebabkan 10 dari 12 penumpang mobil meninggal dunia dan 2 penumpang lain cacat seumur hidup, termasuk dirinya yang mengalami kebutaan.

"Sebelumnya, saya sempat mendapatkan perawatan medis hingga ke luar negeri. Namun, upaya medis itu tetap membuat mata saya tidak bisa digunakan untuk melihat," katanya diringi senyum tipis.

Murtini mengajar dua kali dalam sebulan. Selama mengajar, ia membawa asisten untuk membantunya sehingga tidak kesulitan melakukan komunikasi dengan mahasiswa. "Sebulan dua kali, saya terbang dari Tangerang ke Riau," tambahnya.

Rektor UNRI Membantah

Terkait berita ini, Rektor Universitas Riau (UNRI) Prof Dr Ir H Aras Mulyadi DEA membantah bahwa di universitas yang dipimpinnya ada dosen tunanetra bergelar Doktor yang bernama Murtini.

"Kita tidak punya dosen tunanetra bergelar Doktor bernama Murtini," kata Aras Mulyadi yang dikonfirmasi Beritariau.com melalui selulernya, Kamis (9/10/14) malam.

Saat ditanyakan apakah ada dosen terbang, istilah untuk dosen luar biasa, Aras juga membantah. "Wah, memang tidak ada. Ini harus hati-hati. Saya sudah pernah mendengar tentang itu. Ujung-ujungnya meminta uang. Yang bersangkutan (Murtini) bukan dosen UNRI," tambah Aras. [red/kompas.com]

Laporkan Berita dan Peristiwa Sekitar Anda ! SMS ke : 081378705055 atau ke alamat email : redaksi@beritariau.com (harap lampirkan identitas diri).


Berita Terkait :

Komentar Via Facebook :