Berkat Perhatian Khusus Pemkab Siak

Cerita sukses Petani di Siak: Produksi hampir menyamai di Jawa

Penulis : admin | Rabu, 20 September 2017 - 18:54 WIB

PETANI SIAK - Para Petani di Siak Bekerja Dengan Mesin Modern. Produksi Padi di Siak Hampir Menyamai Panen di Pulau Jawa | Istimewa

Beritariau.com, Siak - Pe‎tani padi di  Kecamatan Bunga Raya Kabupaten Siak kini berpenghasilan puluhan juta setiap kali panen. ‎Bahkan, pekerjaan mereka juga lebih modern dengan perlengkapan mesin dan bantuan dana dari Pemerintahan Kabupaten Siak.

Di daerah ini, mayoritas masyarakat bercocok tanam padi. Sebelumnya mereka petani sawit lalu banting setir menjadi padi.

‎Penghasilan para petani di sana bahkan lebih besar dari pada petani kelapa sawit dengan ukuran luas lahan yang sama.‎ Petani padi Bunga Raya adalah petani tercanggih dan paling keren di Riau.

Bahkan ada yang menyebut kemampuan petani disana nyaris setara dengan petani Jawa.

"‎Produksi padi kami sudah mampu menyamai hasil panen di Jawa. Ini berkat kerja keras petani dan tentu saja berkat bantuan dari Pemerintah Kabupaten Siak," kata Sukarno, Ketua Gabungan Kelompok Tani Sumber Rejeki, Bunga Raya, ‎Rabu (20/09/17).

‎Untuk mengolah tanah di awal musim tanam, sebagian besar petani Bunga Raya menggunakan traktor tangan.

Namun petani yang berpikiran lebih maju sudah mulai menggunakan kendaraan traktor bermesin besar.

Tidak ada lagi yang menggunakan alat bajak yang ditarik kerbau, seperti zaman dulu kala.

‎Para petani menanam benih sudah memakai mesin otomatis, sehingga petani tidak perlu terbungkuk-bungkuk untuk bekerja.

Bukan berarti tidak ada petani yang mempertahankan pola tanam tradisional, namun jumlahnya semakin kecil.

‎Bahkan, mereka juga dilengkapi alat penyiang rumput di Unit Pelayanan Jasa Alat dan Mesin Pertanian Kecamatan. Hanya saja, petani belum terbiasa menggunakan alat ini.

Perlu waktu untuk membiasakan diri, agar mesin benar-benar mencabut rumput, bukan tanaman padi.

‎Jika memasuki masa panen, mereka sudah menggunakan alat khusus combine harvester.

Alat yang bentuknya sekilas seperti kendaraan tank lapis baja mini itu, dengan perlengkapan senjata pemotong dan menggulung padi, mampu memanen lahan satu hektar dalam bentuk gabah siap jual, hanya dalam tempo dua jam.

‎Tidak sedikit petani yang sudah memiliki mesin pemanen otomatis itu.

‎Sukarno adalah petani pertama yang memiliki mesin seharga di atas setengah miliar rupiah itu secara pribadi.

Harga mesin itu setara dengan mobil janis Mitsubishi Pajero Sport atau Toyota Fortuner terbaru.

‎"Harganya ada yang Rp 500 juta, ada juga yang lebih. Memang mahal, tapi kami beli agar panen lebih mudah dan cepat," katanya.

‎Kesiapan mengolah sawah dengan peralatan mesin pertanian hanyalah salah satu faktor keberhasilan petani Bunga Raya.

Yang tidak kalah penting adalah penyediaan irigasi yang dibangun oleh Pemerintah Kabupaten Siak di bawah pimpinan Bupati Syamsuar. Dengan sistem irigasi semiteknis, petani mampu menanam dua kali dalam satu tahun.

‎Bupati Siak Syamsuar memang sangat perhatian terhadap kebutuhan petani padi di daerahnya. Peningkatan debit air irigasi untuk petani padi merupakan salah satu prioritas pembangunannya.

Tidak hanya di Bunga Raya, namun di beberapa sentra pertanaman padi.

‎Persoalan kesulitan air air di lokasi persawahan tadah hujan di Kecamatan Sabak Auh, misalnya, sudah dapat diatasi. Dinas Pekerjaan Umum dan Penataaan Ruang Siak membangun sebuah saluran irigasi dengan mesin pompa untuk menyedot air dari sungai.

Menurut Kepala Dinas PUPR Siak, Irving Kahar, irigasi pompa itu dapat mengairi sawah seluas 600 hektar di tiga desa yang berdekatan.

‎Aripin Kademin (36), Ketua Perkumpulan Petani Pemakai Air, Desa Belading, Kecamatan Sabak Auh, mengatakan, petani kini sudah dapat bertanam dua kali dalam satu tahun.

Padahal sebelumnya pola tanam masih mengandalkan curah hujan dengan produksi panen tertinggi tiga ton per hektar.

"‎Kami sangat terbantu dengan pompa irigasi itu. Dulu, kami hanya mengandalkan air hujan. Biasanya musim tanam dimulai pada bulan September sampai November dan panen pada Januari sampai Maret. Hanya satu kali dalam setahun. Kalau hujan bagus, panen kami berhasil," ujarnya.

‎Dulu, jika Siak memasuki musim kering berkepanjangan, para petani mengalami gagal panen. Dengan pompanisasi ini, sekarang para petani padi sudah dapat bersaing dengan petani lainnya di Bunga Raya.

‎Berkat keberhasilan pompa irigasi di Sabak Auh, pemerintah pusat akhirnya turun tangan membantu Siak membangun sebuah pompa baru dengan kapasitas lebih besar yang akan menyalurkan air Sungai Siak ke lokasi sawah di Bunga Raya.

Akhir tahun ini, irigasi pompa itu sudah akan diuji coba.

‎Dengan irigasi baru tersebut, Sukarno dan seluruh petani padi Bunga Raya semakin semangat untuk turun ke sawah. Apabila air mencukupi, mereka bertekad menambah musim tanam menjadi lima kali dalam dua tahun.

"‎Sekarang kami masih bertanam dua kali setahun, namun setelah ada sumber air baru nanti, kami bertekad menambah musim tanam. Pada saatnya nanti, mungkin kami dapat menanam padi tiga kali setahun," ujar Sukarno.

‎Dengan saluran air bantuan pusat itu kini mulai menjangkiti pemilik kebun kelapa sawit untuk mengalihkan fungsi ladangnya menjadi sawah.

‎Bupati Syamsuar mengatakan, untuk tahun ini, pihaknya hanya dapat menyediakan dana bantuan pencetakan sawah baru untuk lahan seluas 50 hektar saja.

‎Saat ditanya mengapa tidak lebih luas atau dengan skala massal? Dia menjawab tidak memiliki dana yang cukup.

"‎Kami tak memiliki cukup dana. Kami sudah meminta bantuan Kementerian Pertanian untuk membantu pencetakan sawah baru. Apabila dana tersedia, ratusan orang sudah merelakan kebun sawitnya ditebang untuk dijadikan sawah," kata Syamsuar. [rls]‎‎

Laporkan Berita dan Peristiwa Sekitar Anda ! SMS ke : 081378705055 atau ke alamat email : redaksi@beritariau.com (harap lampirkan identitas diri).


Berita Terkait :

Komentar Via Facebook :