Galeri Foto : Petani Padi Jadi Milyader

Lebih untung! Di Siak, Padi jadi primadona daripada Sawit

Penulis : admin | Selasa, 26 September 2017 - 20:49 WIB

PETANI SIAK - Para Petani di Siak Bekerja Dengan Mesin Modern. Produksi Padi di Siak Hampir Menyamai Panen di Pulau Jawa | Istimewa

Beritariau.com, Siak - Kejayaan kelapa sawit yang menggelorakan jutaan warga saat booming harga tandan buah segar pada era 1990-an akhir, kini mulai menipis.

Perlahan dan bergerak pasti, padi sawah telah menempatkan petani di Kecamatan Bunga Raya yang dulunya bertransmigrasi untuk mencari kehidupan lebih baik, saat ini menjadi miliarder baru yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.

Jika ditanya, para petani di  Bunga Raya Kabupaten Siak, Provinsi Riau, akan mengatakan bahwa bercocok tanam padi lebih menguntungkan daripada perkebunan kelapa sawit. Meskipun dalam gambaran masyarakat luar daerah, tanaman sawit sangat menjanjikan.

BUPATI SIAK Dalam Salah Satu Kegiatan Penyerahan Bantuan Alat Pertanian ke Petani Padi | Istimewa

Menurut Ketua Gabungan Kelompok Tani Sumber Rejeki, Bunga Raya, Sukarno (60), saat ini harga lahan sawah untuk tanaman padi yang berada di pinggir jalan kampung atau di dekat sumber air, sudah mencapai Rp 400 juta sampai Rp 500 juta per hektar.

Adapun untuk sawah yang lokasinya lebih ke dalam, harganya berkisar Rp250 juta sampai Rp300 juta.

Jadi, kalau seorang petani memiliki lahan sawah seluas dua hektar dan berada di pinggir jalan kampung atau di dekat sumber air, asetnya sudah mencapai Rp 1 miliar. Tidak sedikit petani Bunga Raya yang memiliki lahan seluas 5 sampai 10 hektar.

BUPATI SIAK SYAMSUAR Saat Acara Panen Raya | Istimewa

"Saya baru saja membeli lahan sawah seluas setengah hektar di dalam (bukan di pinggir jalan)  dengan harga Rp 130 juta. Memang mahal, namun saya yakin dari hasil panen padi nanti, uang pembelian itu akan segera terbayar," kata Sukarno, Selasa  (26/09/17).

Sedangkan harga lahan kelapa sawit hanya berkisar Rp 100 juta per hektar. Itupun lahan sawit yang sudah berproduksi. Apabila tanaman sawitnya belum menghasilkan, harganya lebih rendah lagi.

Harga lahan sawah padi jauh lebih mahal, meskipun perkebunan kelapa sawit merupakan primadona jutaan warga Riau.‎‎ "Dengan perbandingan luas lahan sama, nilai produksi padi sawah jauh lebih tinggi daripada kelapa sawit," ucapnya.

Dengan harga padi yang relatif stabil,  meski saat ini harga sedang menurun menjadi Rp 3.500 sampai Rp 3.800 per kilogram namaun penghasilan petani padi masih lebih besar dari sawit. Harga panen kelapa sawit sangat fluktuatif atau tidak menentu.

Haryadi (38), salah seorang petani sawah dan pemilik kebun kelapa sawit di Kampung Bunga Raya mengatakan, dia memiliki lahan empat hektar. Dua hektar diantaranya merupakan sawah dan dua hektar lainnya kebun kelapa sawit.

BUPATI SIAK SYAMSUAR Dalam Kegiatan Penyerahan Bantuan Alat Pertanian ke Petani | Istimewa

Berdasarkan kalkulasi Haryadi, hasil panen kelapa sawitnya (dua hektar) setiap bulan paling bagus mencapai Rp 4 juta sebulan. Itu baru penghasilan kotor karena harus dikeluarkan biaya untuk panen dan pupuk.

"Penghasilan bersih hanya sekitar Rp 2,5 juta sampai Rp 3 juta. Artinya, pendapatan dari satu hektar kelapa sawit mencapai Rp 1,25 juta sampai Rp 1,5 juta per bulan," katanya.

Sementara produksi panen padi dengan luas satu hektar dapat mencapai 9 ton gabah di saat lingkungan mendukung.

Dengan harga jual gabah sebesar Rp 3.800 per kilogram, pendapatan kotor petani mencapai Rp 34,2 juta per hektar. Dipotong pengeluaran untuk modal sebesar Rp 6 juta per hektar, penghasilan bersih mencapai 28,2 juta per hektar untuk satu musim tanam atau 4 bulan.

Artinya, penghasilan per bulan rata-rata mencapai Rp 7.05 juta per hektar. Apabila luas lahannya dua hektar pendapatan menjadi Rp 14,1 juta per bulan. Apalagi disaat harga padi mencapai Rpp 4.200 per kilogram, keuntungan petani dapat mencapai Rp 8 juta per hektar/bulan.

Kalaupun saat ini panen menurun akibat serangan hama wereng, produksi rata-rata masih mencapai 6 ton per hektar.

Dengan harga gabah Rp 3.800 per kilogram, petani masih memperoleh pengasilan sampai Rp 22,8 juta per hektar/musim tanam.

Dipotong biaya pengeluaran, pendapatan bersih masih mencapai Rp 16,8 juta atau rata-rata Rp 4,2 juta per hektar.

"Hasil padi lebih menguntungkan daripada kelapa sawit. Meski harga gabah dan produksi panen menurun, penghasilan padi masih lebih baik," kata Haryadi.

Bahkan menurut Tupon, salah seorang petani dan pedagang gabah, sekarang ini lebih banyak petani yang ingin membeli lahan sawah daripada orang yang ingin menjual.

Hukum ekonomi pun berlaku. Permintaan yang lebih tinggi otomatis membuat harga menjadi lebih mahal. Itulah sebabnya, mengapa harga lahan sawah di Bunga Raya, jauh lebih mahal daripada kebun sawit.

Bupati Siak, Syamsuar mengatakan, untuk tahun ini, pihaknya hanya dapat menyediakan dana bantuan pencetakan sawah baru untuk lahan seluas 50 hektar saja.

Saat ditanya mengapa tidak lebih luas atau dengan skala massal? Dia menjawab tidak memiliki dana yang cukup.

BUPATI SIAK SYAMSUAR Saat Acara Panen Raya | Istimewa

"Kami tidak memiliki cukup dana. Kami sudah meminta bantuan Kementerian Pertanian untuk membantu pencetakan sawah baru. Apabila dana tersedia, ratusan orang sudah merelakan kebun sawitnya ditebang untuk dijadikan sawah," kata Syamsuar. [rls]

Laporkan Berita dan Peristiwa Sekitar Anda ! SMS ke : 081378705055 atau ke alamat email : redaksi@beritariau.com (harap lampirkan identitas diri).


Berita Terkait :

Komentar Via Facebook :