Disdik Pekanbaru Hentikan Penjualan Buku di Lingkungan Sekolah

Pemko Pekanbaru Hentikan "Praktik" Dagang Buku Di Sekolah

Penulis : user | Rabu, 01 November 2017 - 11:54 WIB

Kepala SMPN 3 Pekanbaru Saat Pertemuan Dengan Ombudsman Riau

Beritariau.com, Pekanbaru - Aktivitas praktik dagang buku yang dilakukan oleh pihak sekolah kepada para wali murid di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 3 Pekanbaru menarik perhatian Firdaus, sang walikota. 

Firdaus mendesak kepada jajarannya agar segera mengusut praktik dagang buku yang dilakukan oleh pihak sekolah kepada wali murid di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 3 Kota Pekanbaru. 

"Saya sudah tugaskan Pak Kadis (Kepala Dinas Pendidikan) untuk turun ke lapangan. Kalau itu benar, tindak," kata Firdaus di Pekanbaru, Rabu (1/11/17).

Praktik penjualan buku yang diketahui oleh pihak sekolah kepada siswa-siswi SMPN 3 Pekanbaru saat ini tengah didalami Ombudsman RI pewakilan Riau. 

Selasa kemarin (31/10), Ombudsman telah memanggil sejumlah pihak termasuk diantaranya kepala sekolah, perwakilan Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru guna mengklarifikasi praktik tersebut. 

Sementara itu, Kepala Bidang SMP Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru, Muzailis mengatakan bahwa pihaknya telah menelusuri praktik dagang buku "ilegal" di SMPN 3 Pekanbaru itu. 

Dia mengatakan bahwa pihaknya telah meminta penjualan buku di lingkungan sekolah dihentikan. 

"Sudah, (penjualan buku di SMPN 3 Pekanbaru) sudah dihentikan," katanya singkat. 

Dia juga mengatakan bahwa pemerintah jelas melarang adanya praktik penjualan buku di lingkungan sekolah. "Penjualan bulu tidak dibolehkan di sekolah. Kalau memang orang tua mau beli buku, ya beli di luar. Bukunya apa, penerbit siapa, jangan di sekolah," ujarnya lagi. 

Informasi praktik dagang buku di SMP Negeri 3 Pekanbaru mencuat setelah salah seorang wali murid mengaku keberatan dengan kebijakan tersebut. Wali murid yang juga menjadi pelapor ke Ombudsman Riau itu mengatakan bahwa pihak sekolah telah melakukan praktik jual beli buku kepada wali murid. 

Total terdapat empat buku terbitan salah satu penerbit terkemuka nasional yang disodorkan kepada wali murid. Dalih pihak sekolah serta komite, buku itu untuk pendukung belajar tambahan bagi siswa kelas IX. 

"Namun yang saya sayangkan, kebijakan ini dilakukan komite sekolah tanpa ada pembahasan bersama wali murid. Total harga buku juga lumayan mahal, mencapai Rp250 ribu," kata Wali murid yang meminta identitasnya disembunyikan tersebut. 

Sementara, dia mengatakan apabila beli di luar harga pasaran ke empat buku itu hanya sekitar Rp160 ribu. Meski tidak diwajibkan, dia mengatakan guru-guru di sekolah tersebut justru membagikan buku-buku itu kepada siswa saat jam belajar tambahan berlangsung. 

"Coba bayangkan ketika anak kita tidak membeli buku sementara teman-temannya membeli semua. Tentu akan ada beban mental tersendiri. Sedihnya kepada orang tua yang tidak mampu, ekonomi menengah kebawah dan hanya mengiyakan kebijakan itu," ujarnya. 

Sementara itu, Kepala Sekolah SMPN 3 Pekanbaru, Rasyid Ridha kepada Antara membenarkan bahwa adanya praktik jual beli buku di sekolah yang ia pimpin. Menurut dia, penjualan buku dilakukan langsung oleh penerbit ke wali murid. 

"Pihak penerbit komunikasi langsung dengan wali murid, bukan (dilakukan oleh) sekolah," katanya. 

Dia juga mengatakan bahwa praktik seperti itu sudah lazim dilakukan di SMPN 3 Pekanbaru. Namun begitu, ia mengatakan bahwa wali murid tidak diwajibkan untuk membeli buku tersebut. [don]

Laporkan Berita dan Peristiwa Sekitar Anda ! SMS ke : 081378705055 atau ke alamat email : redaksi@beritariau.com (harap lampirkan identitas diri).


Berita Terkait :

Komentar Via Facebook :