Guru S Mengaku Pukuli Murid, Camat Ikut Campur

Kasek di Inhu alihkan isu saat para Wali Murid protes aksi kekerasan oknum guru

Penulis : admin | Kamis, 02 November 2017 - 19:48 WIB

DATANGI SEKOLAH - Suasana Pertemuan Para Wali Murid dengan Pihak Sekolah SDN 16 Rengat, Inhu. Mereka Mengadukan Keluhan Anak-anaknya Yang Mengalami Tindakan Kekerasan Oleh Oknum Guru | Istimewa

Beritariau.com, Inhu - ‎Saat pertemuan para Wali dari murid-murid yang diduga menjadi korban kekerasan dari seorang oknum guru, dengan pihak Sekolah, yang disaksikan sejumlah awak media, Selasa (31/10/17) kemarin, Kepala Sekolah (Kasek) SDN 016 Bukit Selasih Kecamatan Rengat Barat, Inhu, Hotmawati Sitanggang, terkesan mencoba mengalihkan pokok masalah.

‎Padahal, pertemuan itu untuk membicarakan masalah pemukulan sejumlah murid SDN 016 Bukit Selasih yang diduga dilakukan oleh guru berinisial S.

Hotmawati malah mengalihkan pembicaraan. Ia tiba-tiba melontarkan pernyataan, bahwa ada seorang guru yang baru pulang ke Jawa permisi selama 3 minggu.

Pernyataan Hotmawati ini pun membuat sejumlah awak media terpelongo dan para orang tua murid yang hadir menjadi bertanya-tanya keheranan.

Meski demikian, saat itu, dengan suara lantang, Hotmawati mengaku akan tetap tegakkan aturan dan disiplin, dengan tidak memperdulikan apakah itu guru yang lebih tua darinya atau pangkat dan golongannya lebih tinggi darinya.

Hotmawati sendiri, baru sekitar sebulan lebih diangkat oleh Bupati Inhu, Yopi Arianto menjadi Kasek SDN 016 Bukit Selasih dengan pangkat Golongan III/B.

Padahal, sejumlah guru tenaga pengajar di sekolah yang Ia pimpin itu, banyak yang sudah berpangkat Golongan IV/A. Bahkan, ada yang sudah golongan IV/B.

Dalam pertemuan itu, Hotmawati mengaku bahwa, saat kejadian pemukulan siswa yang diduga dilakukan oleh S, Ia belum diangkat menjadi Kasek dan masih menjadi guru di salah satu SDN di kawasan Pekanheran, Rengat Barat.

Anehnya, saat sejumlah awak media melakukan konfirmasi dengan Hotmawati, malah Camat Kuala Cinaku, Triatno, suami Hotmawati, yang ikut-ikutan menghubungi salah seorang wartawan yang mengkonfirmasi.

Kepada wartawan itu, Triatno menyatakan, aksi pemukulan terhadap sejumlah murid yang diduga dilakukan guru S, lantaran adanya rasa iri dari guru S terhadap guru yang diberikan izin pulang ke Pulau Jawa itu.

Anehnya, kalangan awak media pun heran kenapa Camat Kuala Cinaku, Triatno, ini ikut mencampuri permasalahan di sekolah, yang seharusnya bisa diselesaikan oleh istrinya selaku Kasek 016 Bukit Selasih.

Padahal, masih ada KUPTD Pendidikan Kecamatan Rengat Barat, Kadis Pendidikan Pemkab Inhu atau Bupati Inhu sendiri yang dapat menyelesaikan permasalahan itu.

Apalagi, Triatno sendiri bukan merupakan Camat Rengat Barat.

Terpisah, KUPTD Pendidikan Kecamatan Rengat Barat, Sarudin, yang ditemui Rabu (01/11/17) kemarin di ruang kerjanya, mengaku bahwa dirinya, Selasa (31/10/17) kemarin, didatangi oleh Camat Kuala Cinaku, Triatno, di ruang kerjanya.

Saat itu, kata Sarudin, mantan Camat Seberida itu malah meminta dirinya agar menyelesaikan masalah pemukulan murid di SDN 016 Bukit Selasih, yang di kepalai istrinya itu.

Menurut Sarudin, meski tak disuruh Triatno, Ia memang tetap mengunjungi SDN 016 Bukit Selasih.

Ditambahkannya, guru S sendiri, sudah mengaku dan membuat surat perjanjian untuk tidak mengulangi perbuatannya kembali terhadap murid yang ada di sekolah itu.

Jika dilanggar, maka akan dibicarakan lagi nanti dengan Kadisdik Inhu, Ujang Sudrajat.

Menjawab pertanyaan terkait keinginan warga dan para wali murid SDN 016 Bukit Selasih, yang tak lagi mengingingkan guru S untuk mengajar di sekolah itu, Sarudin mengaku akan membicarakan hal itu dengan Kadisdik Inhu.

Sebelumnya diberitakan, sejumlah Wali Murid antara lain, Werni, Asma dan Sumarsono, Anto dan Ani.

Dihadapan Kasek SDN 016 Bukit Selasih dan wartawan, mereka mengungkapkan pengaduan anak anak mereka, bahwa selama ini anak mereka mendapat tindakan kekerasan dari guru kelas V berinisial S itu.

Saat dihadirkan di pertemuan itu, para murid itu mengaku dipukuli bahkan dengan martil, gagang sapu dan ada juga yang kepala mereka ditokok.

Diantaranya adalah Zaki, Firman, Fendi, Febi, Sergen Aidil Fajar dan Leni.

Zaki, Sergen dan Febi mengaku dipukul dengan martil atau palu, Leni dipukul dengan gagang sapu, Fendi dipukul dengan penggaris. Sedangkan Firman, kepalanya ditokok dengan tangan.

Werni, orang tua Febi menyatakan, terungkapnya hal ini ketika anaknya itu mengadukan masalah kekerasan yang diterima anaknya itu yaitu dipukul oleh oknum guru itu dengan martil.

Pengakuan ini pun kemudian berkembang dengan pengakuan anak-anak lainnya. Dan sebenarnya masih banyak lagi anak anak yang korban pukulan oknum guru itu.

Namun mereka takut tentang nasib anaknya yang sedang belajar di sekolah itu.

Asmah, wali murid lainnya, menyebutkan, semula mereka akan melaporkan masalah kekerasan ini ke Polisi.

Namun karena masalah ini diminta para wali murid untuk diselesaikan lebih dulu di sekolah bersama kepala sekolahnya. Maka, para wali murid meminta agar Kasek 016 Bukit Selasih itu mampu menyelesaikan persoalan kekerasan ini, jika masih terulang para wali murid akan melaporkannya ke Polisi.

Para wali murid lainnya juga meminta kepada Kasek 016 Bukit Selasih, Hotmawati, agar guru berinisial S itu tidak lagi mengajar di kelas.

Karena para orang tua murid itu merasa khawatir akan terulang kembali kekerasan terhadap anak anak mereka.

Anehnya, di forum pertemuan itu, oknum guru S itu malah merasa tak bersalah dan membenarkan sendiri aksi kekerasannya itu. Menurutnya, tindakan itu dilakukannya lantaran melihat perilaku murid-murid itu sudah keterlaluan.

"Silahkan saja lapor ke Polisi atas perlakuan ini, atau saya yang akan kembali menjebloskan siswa siswa itu ke penjara," ucap guru S dihadapan para wartawan, Kasek dan para orang tua murid.

Asmah sendiri, sempat kesal mendengar jawaban guru berinisial S itu.‎ [zul]

Laporkan Berita dan Peristiwa Sekitar Anda ! SMS ke : 081378705055 atau ke alamat email : redaksi@beritariau.com (harap lampirkan identitas diri).


Berita Terkait :

Komentar Via Facebook :