DP3A, P2TP2A, LBH dan Pengawas Sekolah Datang

Terkuak! Oknum guru di Inhu ini diduga kerap pukuli siswa

Penulis : admin | Jumat, 03 November 2017 - 15:58 WIB

DATANGI SEKOLAH - Suasana Pertemuan Para Wali Murid dengan Pihak Sekolah SDN 16 Rengat, Inhu. Mereka Mengadukan Keluhan Anak-anaknya Yang Mengalami Tindakan Kekerasan Oleh Oknum Guru | Istimewa

Beritariau.com, Inhu - Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) ‎dan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P2TP2A ) di Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), menanggapi serius kasus pemukulan murid di Inhu.

Mereka sepakat membentuk Tim Khusus untuk mengusut kasus pemukulan sejumlah murid SD yang diduga dilakukan oleh seorang oknum guru.

Tak main-main, ‎mereka juga menggandeng tim Psikologi dan Bantuan Hukum‎ untuk mengusut kasus yang terjasdi SDN 016 Bukit Selasih Kecamatan Rengat Barat, Inhu‎.

Kedatangan mereka, Jumat (03/11/17) ke sekolah itu, sebagai respon cepat atas terkuaknya dugaan pemukulan yang dilakukan seorang oknum Guru terhadap sejumlah siswa SD.

Rombongan ini menggelar pertemuan dengan oknum guru tersebut, Dewan guru dan Kepala Sekola (Kasek) SDN 016 Bukit Selasih, KUPTD Pendidikan Kecamatan Rengat Barat dan Komite Sekolah.

Isnidar, Plt Kadis P3A Pemkab Inhu yang juga Wakil Ketua P2TP2A Inhu, mengaku sudah mendengar berita terjadinya tindak kekerasan terhadap anak didik di sekolah tersebut.

Isnidar hadir didampingi Kepala Bidang (Kabid) Perlindungan Perempuan, Dewi Devayanti, Kabid Perlindungan Anak, Rika, pihak KUPTD Pendidikan Rengat Barat, Abdul Manaf, Pengawas Sekolah Adi Ismanto dan sejumlah staf‎.

Menurut Isnidar, tim yang terdiri dari Dinas P3A Pemkab Inhu, P2TP2A Inhu, LBH Perlindungan Anak dan Perempuan, Psikolog dan KUPTD Pendidikan Inhu, sudah menggelar pertemuan.

Selanjutnya, Tim Psikolog dan LBH akan menemui anak anak yang diduga menjadi korban kekerasan.

Ditambahkan Isnidar, pihaknya masih menunggu hasil pemeriksaan tanya jawab dari tim Psikologi dengan sejumlah murid yang diduga korban kekerasan dari guru mereka.

Sayangnya, oknum guru berinisial S tersebut tampak belum hadir.

Dua pengawas dari Disdik Inhu, Abdul Manaf dan Adi Ismanto, usai pertemuan menjelaskan, ternyata aksi oknum guru itu bukan kali itu saja terjadi.

Pihaknya mengaku sudah berulang kali memberi peringatan dan saran yang sudah diberikan kepada guru yang diduga kerap melakukan tindak kekerasan terhadap anak itu.

Namun, nampaknya tidak ada hasil yang signifikan.

Laporan masyarakat sekitar sekolah tempat guru Smengajar, ternyata sudah banyak masuk ke KUPTD Pendidikan Rengat Barat.

Bahkan, warga meminta agar guru S tak lagi mengajar di sekolah itu. Pasalnya, warga mengaku trauma dengan apa yang kerap dilakukan guru S terhadap anak didik. Jika tidak ditindak, dikhawatirkan akan diulangi lagi.

Baik menurut Abd Manaf maupun Adi Ismanto, apa yang telah terjadi di SDN 016 Bukit Selasih ini, akan segera dibicarakan di DisdikInhu.

"Keputusannya nanti masih akan dibicarakan antara KUPTD Pendidikan dengan Kadisdik Pemkab Inhu. Selanjutnya melaporkan permasalahan ini kepada Bupati Inhu untuk diambil keputusan," ujar Abdul Manaf.

Ketua Komite SDN 016 Bukit Selasih, Ismail Usman dikonfirmasi usai pertemuan itu menjelaskan, tidak lagi mengkehendaki guru S itu mengajar di sekolah itu.

Jika ternyata masih juga mengajar dikhawatirkan, masyarakat akan marah dan mendatangi SDN 016 ini beramai ramai.

Menurutnya, kekhawatiran para orang tua murid masih diambang kewajaran. Terlebih bagi siswa perempuan yang sudah mulai beranjak dewasa, rasa ketakutan anak terhadap guru S kerap disampaikan murid kepada orang tuanya dan membuat rasa cemas terhadap para wali murid tentunya.

Menurut Ismail, sebaiknya S secepatnya ditarik ke induk instansinya. Artinya tidak lagi melakukan proses belajar mengajar di SDN 016 Bukit Selasih.

Kepada Kasek SDN 016 yang masih terbilang baru, agar mampu meningkatkan mutu pendidikan di sekolah itu. 

Pertemuan kali ini, tercatat sebagai pertemuan ke tiga kalinya.

Dalam pertemuan kedua pada Selasa (02/11/17) kemarin, Kepala Sekolah (Kasek) SDN 016 Bukit Selasih Kecamatan Rengat Barat, Hotmawati Sitanggang, malah terkesan mencoba mengalihkan pokok masalah.

‎Padahal, pertemuan itu untuk membicarakan masalah pemukulan sejumlah murid sekolah yang diduga dilakukan oleh guru berinisial S.

Hotmawati malah mengalihkan pembicaraan bahwa, ada seorang guru yang baru pulang ke Jawa permisi selama 3 minggu.

Pernyataan Hotmawati ini pun membuat sejumlah awak media terpelongo dan para orang tua murid yang hadir menjadi bertanya-tanya keheranan.

Saat itu, dengan suara lantang, Hotmawati mengaku akan tetap tegakkan aturan dan disiplin, dengan tidak memperdulikan apakah itu guru yang lebih tua darinya atau pangkat dan golongannya lebih tinggi darinya.

Hotmawati sendiri, baru sekitar sebulan lebih diangkat oleh Bupati Inhu, Yopi Arianto menjadi Kasek SDN 016 Bukit Selasih dengan pangkat Golongan III/B.

Sementara, sejumlah guru tenaga pengajar di sekolah yang Ia pimpin itu, banyak guru yang sudah berpangkat Golongan IV/A. Bahkan, ada yang sudah golongan IV/B.

Dalam pertemuan itu, Hotmawati mengatakan, saat kejadian pemukulan siswa yang diduga dilakukan oleh S, dirinya belum diangkat menjadi Kasek. Saat itu, Ia masih menjadi guru di salah satu SDN di kawasan Pekanheran, Rengat Barat..

Anehnya, saat sejumlah awak media melakukan konfirmasi dengan Hotmawati, malah Camat Kuala Cinaku, Triatno, suami Hotmawati, yang ikut-ikutan menghubungi salah seorang wartawan yang ikut konfirmasi.

Kepada wartawan itu, Triatno mengatakan, terjadinya pemukulan terhadap sejumlah murid yang diduga dilakukan guru S, dikarenakan terjadinya keirian S terhadap guru yang diberikan izin pulang ke Jawa itu.

Anehnya, kalangan awak media heran kenapa Camat Kuala Cinaku, Triatno, ini ikut mencampuri permasalahan di sekolah, yang seharusnya bisa diselesaikan oleh istrinya selaku Kasek 016 Bukit Selasih.

Padahal, masih ada KUPTD Pendidikan Kecamatan Rengat Barat, hingga Kadis Pendidikan Pemkab Inhu dan atau Bupati Inhu sendiri untuk menyelesaikan sebuah permasalahan.

Apalagi, Triatno sendiri bukanlah sebagai Camat Rengat Barat.

Terpisah, KUPTD Pendidikan Kecamatan Rengat Barat, Sarudin, yang ditemui Rabu (01/11/17) kemarin di ruang kerjanya, mengakui bahwa dirinya, Selasa (31/10/17) kemarin, didatangi oleh Camat Kuala Cinaku, Triatno, di ruang kerjanya.

Saat itu, kata Sarudin, mantan Camat Seberida itu malah meminta dirinya agar dapat menyelesaikan permasalahan di SDN 016 Bukit Selasih, dimana istrinya yang menjadi Kaseknya.

Menurut Sarudin, meski tak disuruh Triatno, pihaknya memang tetap mengunjungi SDN 016 Bukit Selasih, dimana terjadinya keributan antara para orang tua murid dengan guru S yang diduga telah memukuli sejumlah murid kelas V di sekolah itu..

Ditambahkannya, guru S sendiri, sudah mengaku dan membuat surat perjanjian untuk tak mengulangi perbuatannya kembali terhadap murid yang ada di sekolah itu. Jika dilanggar, maka masalahnya akan dibicarakan lagi nanti dengan Kadisdik Inhu, Ujang Sudrajat.

Menjawab pertanyaan terkait keinginan warga dan para wali murid SDN 016 Bukit Selasih, yang tak lagi mengingingkan guru S untuk mengajar di sekolah itu, Sarudin mengaku akan membicarakan dengan Kadisdik Inhu.

Sebelumnya diberitakan, Sejumlah Wali Murid antara lain, Werni, Asma dan Sumarsono, Anto dan Ani.

Dihadapan Kepala Sekolah SDN 016 Bukit Selasih dan wartawan, mereka mengungkapkan bahwa, anak anak mereka mengadu, selama ini mendapat tindakan kekerasan dari guru kelas V berinisial S itu.

Saat dihadirkan di pertemuan itu, para murid itu bahkan ada yang mengaku dipukuli dengan martil, dengan gagang sapu ada juga yang kepala mereka ditokok.

Diantaranya adalah Zaki, Firman, Fendi, Febi, Sergen Aidil Fajar dan Leni.

Zaki, Sergen dan Febi mengaku dipukul dengan martil atau palu, Leni dipukul dengan gagang sapu, Fendi dipukul dengan penggaris. Sedangkan Firman, kepalanya ditokok dengan tangan.

Werni, orang tua Febi menyatakan, terungkapnya hal ini ketika anaknya itu mengadukan masalah kekerasan yang diterima anaknya itu yaitu dipukul oleh oknum guru itu dengan martil.

Pengakuan ini pun kemudian berkembang dengan pengakuan anak-anak lainnya. Dan sebenarnya masih banyak lagi anak anak yang korban pukulan oknum guru itu.

Namun mereka takut tentang nasib anaknya yang sedang belajar di sekolah itu.

Asmah, wali murid lainnya, menyebutkan, semula mereka akan melaporkan masalah kekerasan ini ke Polisi.

Namun karena masalah ini diminta para wali murid untuk diselesaikan lebih dulu di sekolah bersama kepala sekolahnya. Maka, para wali murid meminta agar Kasek 016 Bukit Selasih itu mampu menyelesaikan persoalan kekerasan ini, jika masih terulang para wali murid akan melaporkannya ke Polisi.

Para wali murid lainnya juga meminta kepada Kasek 016 Bukit Selasih, Hotmawati, agar guru berinisial S itu tidak lagi mengajar di kelas.

Karena para orang tua murid itu merasa khawatir akan terulang kembali kekerasan terhadap anak anak mereka.

Anehnya, di forum pertemuan itu, oknum guru S itu malah merasa tak bersalah dan membenarkan sendiri aksi kekerasannya itu. Menurutnya, tindakan itu dilakukannya lantaran melihat perilaku murid-murid itu sudah keterlaluan.

"Silahkan saja lapor ke Polisi atas perlakuan ini, atau saya yang akan kembali menjebloskan siswa siswa itu ke penjara," ucap S dihadapan para wartawan, Kasek dan para orang tua murid.

Asmah sendiri, sempat kesal mendengar jawaban guru berinisial S itu.‎ [zul]‎

Laporkan Berita dan Peristiwa Sekitar Anda ! SMS ke : 081378705055 atau ke alamat email : redaksi@beritariau.com (harap lampirkan identitas diri).


Berita Terkait :

Komentar Via Facebook :