Forum Kelapa Sawit Riau

Dialog Apkasindo Riau: Sawit RI dimusuhi di luar & dalam negeri?

Penulis : admin | Kamis, 14 Desember 2017 - 21:28 WIB

TALK SHOW - DR Sadino, Pengamat Hukum Kehutanan dari Universitas Al Alzhar Saat Pemaparan Makalah Dalam Talk Show APKASINDO Riau | Beritariau.com 2017

Beritariau.com, Pekanbaru - Situasi dan kondisi perkebunan kelapa sawit di Indonesia saat ini seakan 'dimusuhi' oleh kompetitor minyak sawit dunia. Parahnya, juga 'dimusuhi' oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia.

"Mengapa di dalam negeri sendiri juga 'dimusuhi'?," ujar Pengamat Hukum Kehutanan, DR Sadino SH MH di Talk Show Forum Kelapa Sawit Riau, yang ditaja Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) Provinsi Riau di Pekanbaru, Kamis (14/12/17) malam.‎

Menurutnya, jika dari 1,8 juta ‎hektar lahan yang diduga bermasalah oleh Pansus Monitoring DPRD Riau didalamnya juga terdapat kebun kelapa sawit, maka, situasi ini tergolong sudah tak kondusif.

Sejumlah aturan terkait baik Peraturan Perkebunan, Kehutanan, Lingkungan, Tata Ruang‎ dan lainnya yang dapat menjerat Perusahaan dan Perorangan, menjadi 'dilema' dalam praktik usaha kelapa sawit.

Beragam status kawasan Hutan, diantaranya; Hutan Lindung, Hutan Produksi, Hutan Produksi Terbatas, Hutan Produksi yand dapat di Konversi, dan lainnya.

Khusus untuk Riau sendiri, bahkan diatur melalui Surat Keputusan (SK) Menteri Kehutanan, mulai dari SK bernomor173 tahun 1986 hingga SK‎.314 tahun 2016.‎

Dosen Tetap Pasca Sarjana Universitas Al - Azhar ini pun menyatakan, sejumlah regulasi atau peraturan seakan menjadi 'musuh' bagi pertumbuhan usaha kelapa sawit.‎

Padahal, lanjutnya, sebanyak 524.561 Kepala Keluarga (KK) Petani, 534.827 jiwa buruh tani, menggantung hidup pada sektor perkebunan kelapa sawit.‎

Direktur Eksekutif Biro Konsultasi Hukum dan Kebijakan Kehutanan ini juga berharap, proses penyelesaian sengketa hukum bagi petani sebaiknya tak lagi menggunakan cara-cara yang represif.

"Perusahaan HTI (Hutan Tanaman Industri, red) tak perlu harus membuldozer kebun kelapa sawit petani. Sudah ga jaman lagi," katanya.

‎Meski demikian, kepatuhan terhadap aturan, menjadi penting di kala ketatnya persaingan dan sentimen negatif sawit saat ini.

Untuk itu, katanya, seluruh pelaku usaha kelapa sawit, baik perusahaan atau korporasi maupun petani, sebaiknya semakin terbuka‎.

"Bahkan, GAPKI (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit) sendiri‎ yang memiliki data dan legal, harus lebih berani bersuara bahwa mereka patuh terhadap aturan," ungkapnya.

Menurutnya, Uji Materiil terhadap regulasi itu, menjadi salah satu cara yang ditempuh oleh Petani, Perusahaan maupun Pemerintah Daerah. Ketiga elemen tersebut lah yang miliki Legal Standing untuk merubah regulasi itu.

Sebelumnya di rangkaian acara yang sama, ‎Tokoh Sawit Nasional DR Bayu Krisnamurthi, yang juga Direktur Utama di Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit menyatakan, kekuatan pelaku usaha perkebunan kelapa sawit sangat berpengaruh dalam beberapa aspek, baik perekonomian bahkan politik.

"Saya bukan orang Politik, tapi dalam indikator penentu Politik. Pelaku usaha sawit sangat menentukan‎," ungkap Bayu dalam paparannya sebagai Keynote Speaker dalam acara Forum Kelapa Sawit Riau, APKASINDO Riau.

‎Acara ini melibatkan Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit dan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Cabang Riau.

Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Riau Ferry HC juga hadir dalam kegiatan ini.

Satu diantaranya, kata Bayu, menyikapi agenda Pilkada Gubernur Riau tahun 2018 mendatang.

"Apalagi kalau GAPKI dan APKASINDO sudah bergabung. Calon Gubernur jangan remehkan kekuatan Pelaku Usaha Kelapa Sawit," katanya disambut tepuk tangan seluruh Forum.

‎Forum ini, lanjutnya, menurutnya harus dilanjutkan dengan diskusi-diskusi yang membangun untuk keberlangsungan perkebunan kelapa sawit.

Ditempat yang sama, Ketua GAPKI Riau Saut Sihombing menyambut baik ajang diskusi dalam Forum bersama ini. Menurutnya, GAPKI juga perlu untuk menepis isu-isu negatif.

"Selama ini, perusahaan dicap mencaplok lahan petani. Kedepannya, sejalan dengan agenda dari pemerintah, semuanya akan dibenahi," ujarnya.

Diskusi dalam Forum Kelapa Sawit Riau ini merupakan salah satu dari rangkaian kegiatan APKASINDO Riau selama dua hari, 14 hingga 15 Desember 2017.

Sebelumnya, di hari yang sama, APKASINDO Riau menggelar ‎kegiatan 'Sawit Goes to Campus' di Universitas Islam Riau (UIR) yang mengambil tema "Sawit, antara Mitos dan Fakta. Sawit adalah Kita'.

"Makan dengan gorengan minyak goreng, mandi dengan sabun berbahan baku minyak  sawit, kosmetik berbahan baku minyak sawit. Masih banyak produk dan manfaat sawit yang tanpa kita sadari selalu ada bagi kehidupan sehari-hari," ‎ungkap Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) Riau, Gulat ME Manurung mengawali sambutannya di Kampus UIR.

‎Kepada ribuan Mahasiswa UIR yang mengikuti iven Sawit goes to Campus, yang ditaja Apkasindo Riau, Kamis pagi di Gedung Pasca Sarjana Pekanbaru pagi tadi, Gulat mengatakan, selama ini banyak sekali isu-isu dan sentimen negatif tentang sawit‎.

Padahal, dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat sudah berhubungan dengan sawit.‎ Bahkan, salah satu sumber ekonomi masyarakatnya adalah sawit.‎ Dampaknya, kata Gulat, mungkin juga dirasakan oleh Kampus UIR sendiri. 

"Data dari kampus yang saya dengar, kalau sudah harga sawit turun, hampir 60 persen mahasiswa nunggak pembayaran SPP," ujarnya sambil tertawa.

Oleh karena itu, lanjut Gulat, menurutnya dapat dikatakan 'Sawit adalah UIR, UIR adalah sawit'.

"Untuk itulah, APKASINDO sebagai Organisasi Profesi Petani Sawit berinisiatif melakukan  kegiatan pengenalan sawit ke kampus dengan tema "Sawit, antara Mitos dan Fakta. Sawit adalah Kita"," jelasnya.

‎Ia juga menyatakan apreasiasi dan terima kasih kepada mahasiswa yang selama 10 hari ini bekerja sama untuk terselenggaranya acara ini.

"Saya menilai dosen-dosen UIR sudah sukses mengajar mahasiswanya. Terbukti mereka bisa bekerja dalam teamwork sehingga acara sebesar ini bisa terlaksana," ujarnya.

Ia pun berharap acara-acara seperti ini akan terus berkelanjutan.‎ "Mudah-mudahan kedepannya bisa digelar di Kampus-kampus lain seperti UIN, Universitas Riau dan kampus-kampus lainnya," ujarnya.

Wakil Rektor I UIR, Syafrinaldi yang membuka acara ini menyambut baik acara Sawit Goes to Campus yang digelar di UIR ini.‎

"Alhamdulillah. Saat ini, sekedar untuk informasi, Fakultas Pertanian sudah terakreditasi A, dan sekarang kita sedang menuju Akreditasi Internasional," jelasnya.

‎Menurutnya, tema yang diangkat oleh APKASINDO ini sangat bagus. "Sekarang ini konglomerat banyak dari orang-orang sawit. Ini sangat bagus untuk diulik," ungkapnya.

Ia pun berharap agar kegiatan ini bisa diikuti sebaik-baiknya oleh Mahasiswa sehingga bisa mendatangkan manfaat bagi mahasiswa semua.

"Selamat mengikuti acara ini, ikuti dan serap ilmu-ilmu yang disampaikan narasumber dengan sebaik-baiknya," pungkasnya.

Acara yang digelar di kampus UIR ini juga diisi dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara APKASINDO Riau dengan Fakultas Pertanian UIR.‎ [red]

Laporkan Berita dan Peristiwa Sekitar Anda ! SMS ke : 081378705055 atau ke alamat email : redaksi@beritariau.com (harap lampirkan identitas diri).


Berita Terkait :

Komentar Via Facebook :