Korban penganiayaan di Rohil ancam kembalikan KTP, begini ceritanya

Penulis : user | Senin, 08 Januari 2018 - 21:23 WIB

Anak (kiri) dan ibu (tengah) korban penganiayaan di Rokan Hilir didampingi pengacaranya (kanan) mempertanyakan kasusnya ke kepolisian (istimewa)

Beritariau.com, Pekanbaru - Sudah menahun Keluarga korban penganiayaan di Kepenghuluan Panipahan, Kabupaten Rokan Hilir mencari keadilan. Korban termasuk seorang anak di dalamnya mempertanyakan proses hukumnya ke Kepolisian Daerah Riau terkait kasus yang sudah dilaporkan sejak 2013.

Pasangan Rajiman (55) dan Maryatun (45), Arazaqul (11), anak kelimanya diduga dianiaya oleh tiga pria secara membabi buta pada 2013 lalu. Akibat itu anaknya mengalami luka dalam dengan pembekuan darah sehingga terjadi penyumbatan pada pencernaannya sehingga tidak bisa makan seperti biasa dan harus menggunakan alat bantu pencernaan untuk bertahan hidup, itupun hanya memakan cairan.

Selain ke penegak hukum, korban juga sudah melapor ke Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Riau, Komisi Nasional Perlindungan Anak, Komnas HAM hingga ke Istana Negara. Namun belum ada harapan.

Bahkan saat kedatangan Presiden Joko Widodo di Pekanbaru Minggu (23/7) lalu sempat memasuki Ring 1 dan menggunakan spanduk meminta keadilan pada presiden, namun kemudian diamankan kepolisian.

Kuasa hukum yang mendampingi korban, Suroto mengatakan sudah menyampaikan ke Kepala Polda Riau, Irjen Pol Nandang dan akan bertemu Senin (08/01/2018). Tapi ketika sudah berada di ruang tunggu yang menemui adalah Wakil Direktur Direktorat Kriminal Umum dan Kepala Sub Direktorat IV.

Dalam pertemuan itupun, lanjutnya, ditanyakan lagi tentang perkaranya apa, perkembangan, dan hambatannya. Mendengar pertanyaan itu, Suroto kecewa karena hal itu sama juga dengan ketika pertama yang dilaporkan.

Oleh karena itu, kata dia, jelas kasus ini tidak ditindaklanjuti oleh penegak hukum sebelumnya. Perkara ini sudah dilaporkan mulai dari Kepolisian Sektor Panipahan, Kepolisian Resor Rokan Hilir, Polda Riau, bahkan hingga Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia.

"Tidak ada tindak lanjutnya, tak ada Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan (SP2HP). Tidak ada perkmbangan sama sekali. Kita pesimis kalau masih dilakukan cara seperti itu, sama seperti sembilan bulan lalu," ujar Suroto.

Bahkan ada disampaikan polisi bisa jadi kasus ini masih penyelidikan. Padahal katanya dulu sudah ada tersangka dua orang.

Diapun mengancam akan ada aksi ekstrim jika kasus ini tetap mangkrak. Korban lanjutnya akan melakukan aksi  seperti mengembalikan Kartu Tandak Penduduk.

"Untuk apa, gak ada gunanya lagi. Kita akan minta ke pengadilan," ungkapnya.

Dia menambahkan membela korban atas hati nurani, tanpa bayaran. Bahkan kata dia dirinya membiayai korban mencari keadilan ke Jakarta. Oleh sebab itu dia menyayangkan pernyataan Kapolda Riau sebelumnya Irjen Pol Nandang yang mengatakan dirinya mencari panggung. 

Kepala Kepolisian Daerah Riau, Irjen Pol Nandang menyatakan akan menggesa kasus penganiayaan sebuah keluarga yang di dalamnya ada seorang bocah di Kabupaten Rokan Hilir.

"Kasusnya sudah ditangani tapi tidak tuntas, nanti akan di'backup' Polda," kata Kapolda.
Lebih lanjut dia mengatakan bahwa bila perlu kasus tersebut akan ditarik ke Polda Riau. Hal ini, lanjutnya, semata-mata untuk kecepatan penanganan  kasus yang sudah terjadi dan dilaporkan sejak 2013 lalu.(bas)

Laporkan Berita dan Peristiwa Sekitar Anda ! SMS ke : 081378705055 atau ke alamat email : redaksi@beritariau.com (harap lampirkan identitas diri).


Berita Terkait :

Komentar Via Facebook :