Notaris dan Oknum BPN

Kredit fiktif BNI 46, Polda Riau lengkapi berkas Dewi & Darmizon

Penulis : admin | Selasa, 13 Februari 2018 - 17:35 WIB

ilustrasi

Beritariau.com, Pekanbaru - Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Riau masih melengkapi berkas perkara dua tersangka dalam pengembangan kasus pencairan kredit fiktif PT BNI 46 terhadap PT Barito Riau Jaya.

Sejauh ini, kasus tersebut dilaporkan masih dalam tahap pengembalian berkas atau P19 dari Kejaksaan.

Kedua tersangka yakni Dewi Farni Djafaar selaku Notaris dan Tengku Darmizon selaku mantan Pegawai Badan Pertahanan Nasional (BPN).

"Berkasnya dikembalikan P19. Saat ini masih kita lengkapi kembali sesuai petunjuk jaksa peneliti," kata Direktur Ditreskrimsus Polda Riau, Kombes Pol Gideon Arif Setyawan, Selasa (13/02/18).

Ia belum memastikan kapan berkas akan kembali diserahkan ke Kejaksaan, karena penyidik saat ini masih melengkapi berkas.

Untuk diketaui, dalam kasus ini, sebanyak enam terdakwa telah menjalani persidangan dan divonis bersalah oleh majelis hakim.

Keenam terdakwa masing-masing divonis hukuman penjara 9 tahun yakni Erson Natitupulu selaku Ditektur Utama PT BRJ, Atok Yudianto ABC Manurung dan Dedi Syahputra selaku pegawai BNI.

Kemudian, dua mantan pimpinan wilayah BNI Wilayah 02, yaitu Mulyawarman dan Ahmad Fauzi.

Diketahui, peran tersangka Dewi, yaitu sebagai Notaris yang mengeluarkan Cover Note terkait agunan dari PT BRJ untuk mengajukan kredit tahun 2007 - 2008.

Dan untuk tersangka Darmizon, berperan mengeluarkan surat tanah yang menjadi acuan dari Dewi.

Atas perbuatan mereka merugikan negara sekitar Rp37 miliar. Dan dijerat oleh penyidik Pasal 2 atau Pasal 3 Jo Pasal 18 UU Nomor 31 tahun 1999.

Dimana undang-undang tersebut diubah dan ditambah dengan Undang Undang Nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor).

Kasus ini bermula sewaktu Direktur PT Barito Riau Jaya, Esron Napitupulu, mengajukan kredit Rp40 miliar ke BNI 46 cabang Pekanbaru.

Sebagai agunan, Esron melampirkan beberapa surat tanah di Kabupaten Kampar, Pelalawan dan Kuansing.

Tanpa tinjauan di lapangan, pegawai BNI bernama Atok Manurung, Dedi Syahputra dan AB Manurung menyetujui kredit.

Hasil penyelidikan, sebagian tanah yang diagunkan, ternyata tidak ada.

Dalam pengembangan kasus ini terungkap, kredit yang diajukan Esron bukan untuk perkebunan sawit.

Uang itu digunakannya membangun klinik kecantikan, membeli mobil mewah, beberapa rumah dan toko serta hektare tanah di daerah Riau. Kasus korupsi ini disidik Ditreskrimsus Polda Riau dan telah memeriksa puluhan saksi termasuk istri Esron, Helen.

Awalnya, kasus ini disidik Subdit II Ditreskrimsus Polda Riau dalam dugaan Tindak Pidana Perbankan dan Tindak Pidana Pencucian Uang. Namun, oleh petunjuk Kejaksaan, akhirnya dirubah menjadi dugaan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) lantaran melibatkan banyak oknum Petinggi BUMN, BPN dan Notaris. [red]

Laporkan Berita dan Peristiwa Sekitar Anda ! SMS ke : 081378705055 atau ke alamat email : redaksi@beritariau.com (harap lampirkan identitas diri).


Berita Terkait :

Komentar Via Facebook :