Hasil Temuan BPK RI

Anak Sinarmas grup di Riau nunggak pajak Rp28 milyar

Penulis : admin | Sabtu, 10 Maret 2018 - 22:06 WIB

ilustrasi

Beritariau.com, Pekanbaru - PT Indah Kiat Pulp and Paper (IKPP) yang beroperasi di Kabupaten Siak Provinsi Riau diketahui menunggak pajak Penerangan Lampu Jalan (PJU) non PLN sebesar Rp28 miliar ke pemerintah setempat.

Anak usaha Sinarmas Group di bidang pengolahan bubur kertas ini, dinilai tidak taat pajak selama 4 tahun.

Kepala Badan Keuangan Daerah Pemkab Siak Yan Prana ‎Jaya mengatakan, tunggakan itu baru diketahui setelah tim auditor Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI turun ke lokasi pabrik PT IKPP tersebut.

Akhinya, BPK membongkar pemakaian listrik oleh mereka. 

"Kan perusahaan itu kelistrikannya mesin sendiri, itu yang dikenakan pajak. Jadi awalnya BPK curiga, kok pembayaran pajak penerangan lampu jalan PT IKPP kecil. Kemudian tim turun ke lokasi dan mengecek sistem penggunaan listrik mereka," ujar Yan, Jumat (09/03/18) kemarin.

Kewajiban PT IKPP membayar pajak penerangan jalan dimulai pada 2010. ‎Sedangkan, tim auditor BPK ke lapangan pada tahun 2014.‎ Ketika itu, tim menemukan selisih jumlah pajak yang disetorkan.

"Ada perbedaan selisih antara kewajiban pajak lampu penerangan jalan, dengan ‎yang dibayar perusahaan itu selama 4 tahun," kata Yan.

Dari hasil pemeriksaan BPK, jumlah pemakaian listrik non PLN oleh pabrik PT IKPP diduga tidak sesuai dengan yang dilaporkan ke pemerintah. ternyata Indah Kiat pemakaian listrik penerangannya besar.

"Kemudian BPK melaporkan temuan itu ke kita Pemkab Siak. Lalu kami pelajari dan membuat tagihan. Dan hasilnya, PT IKPP harus membayar tunggakan pajak sejak tahun 2010 hingga 2014 sebesar Rp 28 Miliar," kata Yan.


Namun Yan tidak merincikan berapa selisih uang pajak antara yang dibayar PT IKPP selama ini, dengan kewajiban mereka yang tidak dibayar, sesuai pemakaian hasil temuan BPK.

"Jadi dari hasil audit BPK, selama ini perusahaan mereka memang bayar pajak, namun tidak sesuai dengan pemakaian," terang Yan.

Apa yang dilakukan PT IKPP, kata Yan, telah melanggar Undang undang nomor 28 tahun 2009 tentang  pajak dan restribusi daerah. Dalam aturannya perusahaan harus membayar pajak non PLN ke Pemda sebesar 1,5 persen.

"Setelah beberapa kali pertemuan, mereka janji mau bayar tunggakan tapi dengan cara dicicil. Kita tidak mau sekedar janji saja, mereka harus mau buat perjanjian di atas materai," kata Yan.

Sebab, katanya, Pemkab Siak tak ingin ada masalah di kemudian hari.

Pasalnya, janji yang ditebar PT IKPP tak berdasarkan hukum. Karena, Pemkab Siak akan melakukan upaya hukum jika perusahaan itu tetap tak mau bayar pajak tersebut.

"Jika PT IKPP masih belum berniat juga membayar tunggakannya, kami akan melakukan upaya paksa melalui pengacara negara (jaksa)," tegas Yan. [red]

Laporkan Berita dan Peristiwa Sekitar Anda ! SMS ke : 081378705055 atau ke alamat email : redaksi@beritariau.com (harap lampirkan identitas diri).


Berita Terkait :

Komentar Via Facebook :