Nilai Kebangsaan di Perkampungan Kota Dumai

Saat Pimpinan TNI-Polri di Riau Deklarasi di Kampung

Penulis : admin | Jumat, 16 Maret 2018 - 21:39 WIB

DEKLARASI - Kapolda Riau, Danrem 031 Wirabima dan Kepala BIN Daerah Riau bersama Elemen Pemuka Agama dan Masyarakat di Perkampungan di Kota Dumai | Beritariau.com 2018

Beritariau.com, Dumai - ‎"Amar ma'ruf nahi munkar! (mengajak atau menganjurkan hal-hal yang baik dan mencegah hal-hal yang buruk bagi masyarakat, red)," tegas seorang remaja MasjidJami Baiturrahman, Kamis (15/03/18) malam kepada seorang Jenderal Polisi Bintang Dua.

Sedikitpun, Ia tak tampak canggung saat tampil malam itu sekitar pukul 10 wib‎ diatas panggung yang didirikan di pinggir jalan, tepatnya di depan Masjid Baitur Rahman di kawasan Simpang Jepang Kelurahan Bukit Nenas Kecamatan Bukit Kapur Kota Dumai.

‎Nandang, Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Riau yang melempar pertanyaan itu, sedikit kaget. Ia tak menyangka pemuda tersebut bakal menjawab dengan frasa Syariat Islamu ntuk menyebutkan kesamaan tugas dari Satuan TNI dan Polri.‎

"Betul," ucap Nandang tanda sejutu atas jawaban itu.

Dialog itu terjadi di atas panggung yang disaksikan sekitar seribu lebih ‎pasang mata. Pengendara yang lalu lang di jalan lintas itu, mungkin mengira ada acara orgen tunggal kondangan saat itu. Padahal, tak ada alat musik.

Siapa sangka, ‎Kapolda Riau telah menempuh jarak sekitar 150 kilometer dari Jantung Kota Pekanbaru, turun ke perkampungan yang masih jauh dari Kota Dumai ini. Ia bahkan mengajak beberapa Pejabat Utama Polda Riau ke Masjid yang sederhana itu.

Tak hanya Pimpinan Polri, Pimpinan TNI di Riau pun hadir ke lokasi itu.

Komandan Korem (Danrem) 031 Wirabima Kolonel Inf Sonny Aprianto juga langsung meluncur ke lokasi itu, usai Coffee Morning dengan Insan Pers di Pekanbaru, Kamis pagi.

Diacara itu, Sonny juga ikut bertanya. Namun, pertanyaan yang ditujukannya ke seorang pria tua yang duduk di kursi paling depan, ini tergolong cukup berat.

‎"Siapa Pencetus Resolusi Djihad fi Sabilillah Bela Negara Nahdatul Ulama (NU) pada 22 Oktober 1945," tanya Sonny.

"Wah! (Pertanyaan) yang ini‎ susah itu," celetuk masyarakat yang menyaksikan.

Sonny tampak ingin tahu sejauh mana wawasan terkait sejarah panjang kemerdekaan NKRI yang dipenuhi dengan aksi jihad para Syuhada‎.

Diatas panggung, pria bersorban yang rambut dan kumisnya sudah memutih itu menjawab,"Hadratus Syeikh (Maha Guru, red) Kyai Haji Hasyim Asy’ari".

‎Nama itu, adalah komandan spiritual dari Laskar Hizbullah, yang terdiri dari para kyai dan beranggotakan para santri.

Sonny seakan mengajak warga yang hadir untuk mengingat kembali momen Religius dan Perjuangan membela tanah air. 

Dimana, seruan KH Hasyim Asy’ari Resolusi Jihad kala itu, disambut oleh puluhan ribu Kyai dan Santri se-antero Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat. Pasukan sekutu bertekuk lutut oleh Tentara Rakyat, TNI kala itu, bersama para Santri.

Padahal, dari pengalaman tempur di Perang Dunia II sebelumnya, pasukan sekutu merasa sudah lebih dari cukup untuk bisa memenangkan Pertempuran 10 November 1945 saat itu.

Jawaban pria tua itu, membuat Sonny kagum. "Betul," kata Sonny, disambut tepuk tangan ribuan warga yang takjub.

Dialog diatas, adalah petikan percakapan saat Quiz berhadiah ala Presiden Jokowi yang digelar diakhir acara. Ada Sepeda dan Handphone sebagai hadiah.

Bahkan, seorang gadis cilik berhijab membuat gelak tawa dengan aksinya turun dari panggung sambil membawa microphone menemui seorang polisi yang duduk di kursi depan dan membaca nama yang ditulis di baju dinas polisi itu. 

"Restika!," teriak si gadis cilik bernama Yuliatika, akhirnya mampu menjawab pertanyaa siapa nama Kapolres Kota Dumai. Hadiah berhasil diraihnya.

Momen penuh religius dan kebersamaan di antara jajaran TNI- Polri yang berbaur dengan masyarakat tampak kenal malam itu.

"Ini momen para Umaro ( pemerintah, red) datang menemui Ulama (Pemuka Agama, red) di kampung. Majelis di Masjid Baiturrahman ini adalah Majelis ‎Thoriqah Qodiriyyah Wannaqsyabandiah, tertua di

‎kota Dumai," ungkap Wakil Direktur Direktorat Pembinaan Masyarakat (Dinmas) Polda Riau AKBP Imam Saputra, saat ditemui Beritariau di lokasi acara.

‎Diketahui, Majelis Thoriqah ini, juga menjangkau Pulau Rupat Kabupaten Bengkalis. Pria tua yang menyebut nama KH Hasyim Asy'ari itu lah Kyai Sepuh, Pimpinannya.

Namanya ‎Syeikh KH Rohmat Nawawi. Kyai berusia 78 tahun itu adalah alumnus Ponpes Lirboyo, Kediri Jawa Timur. Kyai Rohmat memiliki jaringan luas di kalangan Ulama teruma di NU.

"Lihat saja tadi, sebagai teladan disini, wawasan kebangsaan beliau selaku Kyai Sepuh, sudah teruji‎ mampu menjawab pertanyaan Danrem tadi," sebut Imam.

Melalui acara itu, Kapolda Riau Irjen Pol Nandang menyatakan, pihaknya selaku Umara, bertugas menciptakan kondisi dan situasi yang aman dan tenteram.

"Sedangkan Ulama, juga berperan menyadarkan umat agar memahami kehidupan berbangsa melalui dakwahnya," terang Nandang.

DEKLARASI - Kapolda Riau Irjen Pol Nandang Menandatangani Deklarasi Anti Hoax bersama warga Perkampungan di Kota Dumai

Dalam sambutannya, Ia menyelipkan pesan-pesan Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Kamtibmas) seperti ; larangan membakar lahan dan hutan dan menghadapi Pilkada.

Nandang banyak menekankan, agar pemuka lintas agama, ikut memerangi berita bohong dan tak terpancing dengan ujaran kebencian, apalagi di tahun Politik saat ini.

"Jangan mau terpancing. Hoax sudah‎ merajalela. Saya juga menyatakan, bahwa radikalisme itu tidak identik dengan satu agama saja. Di setiap agama, pasti ada kelompok radikal," ujarnya.‎

Sayang disayangkan, lanjutnya, jika saling mencaci-maki dan menghujat mengatasnamakan agama.

"Tindakan seperti itu, akan mencoreng nama agama itu sendiri. Disayangkan, jika harus terpaksa kami melakukan penindakan. Saya harap jangan ada,"‎ tegasnya.

Berbeda dengan Danrem Wirabima Sonny. Ia mengaku sudah cukup mengenal daerah Riau mulai sebagai Kepala Staf Kodim (Kasdim), Komandan Kodim (Dandim) dan Kepala Staf Korem (Kasrem).

"Saya bukan orang baru disini. Saya kenal wilayah ini, jadi jangan coba-coba ada adu domba," tegas Kepala Prajurit Penjaga Teritorial Riau ini.

‎Acara ini, kata Imam Saputra, sebenarnya adalah Deklarasi Anti Hoax yang digelar bersama dengan Ulama, Ponpes dan Kelompok Pemuka dan Pemuda Lintas Agama.

Uniknya, Deklarasi ini malah digelar memakai tenda di kampung, bukan di pusat perkotaan maupun di gedung atau hotel.

‎"Kampung ini memiliki nilai spiritual kebangsaan, dimana warganya hidup rukun berdampingan. Jadi, nilai-nilai disini patut dicontoh oleh generasi milenial. Deklarasi Anti Hoax ini, kita gelar mulai dari Kampung," tutup Imam. [red]

Laporkan Berita dan Peristiwa Sekitar Anda ! SMS ke : 081378705055 atau ke alamat email : redaksi@beritariau.com (harap lampirkan identitas diri).


Berita Terkait :

Komentar Via Facebook :