LBH Pekanbaru Proses 6 Pengaduan

Sekitar 500 pekerja di Riau tak dapat THR yang layak

Penulis : admin | Kamis, 12 Juli 2018 - 19:08 WIB

ilustrasi

Beritariau.com, Pekanbaru - LBH Pekanbaru – YLBHI merilis, sekitar 500 Pekerja di Riau tidak diberikan Tunjangan Hari Raya (THR)‎ yang layak terkait Hari Raya Idul Fitri 2018 lalu.

Temuan itu diperoleh dari 9 Pengaduan Pelanggaran THR Keagamaan yang diterima Posko THR LBH Pekanbaru - YLBHI yang dibuka sejak tanggal 6 Juni 2018‎ lalu.

Pelanggaran tersebut sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Ketenagakerjaan RI Nomor 6 Tahun 2016 dan peraturan lain yang terkait.

Pengaduan-pengaduan yang masuk itu, sudah ditindaklanjuti dengan melakukan konfirmasi kepada pengadu dan perusahaan serta melakukan somasi terhadap perusahaan yang diduga kuat melakukan pelanggaran terhadap ketentuan Peraturan yang terkait.

"Sejatinya, THR merupakan kewajiban dari pengusaha kepada pekerja/buruh yang berhak menerima sesuai Peraturan Menteri Ketenagakerjaan RI No. 6 Tahun 2016," ungkap Perwakilan YLBHI, Rian Sibarani dalam rilisnya yang diterima Beritariau, Selasa (10/070/18).

Dalam peraturan tersebut, jelasnya, sudah cukup jelas dan terperinci mengatur siapa yang berhak mendapatkan THR dansiapa yang berkewajiban memberikan THR. Terkait dengan perhitungan besaran THR yangditerima oleh pekerja.

Akan tetapi, peraturan tersebut masih saja dilanggar oleh pengusaha.

Dari 9 pengaduan yang masuk, terangnya, ada 4 pengaduan yang belum menerima THR, 5 Pengaduan yangmenerima THR tetapi tidak sesuai dengan Peraturan Menteri Ketenagakerjaan RI No. 6 Tahun2016. Dan, dari laporan tersebut pengadu juga menyebutkan permasalahan buruh diluar THR.

Dalam prosesnya, hanya ada 6 pengaduan yang akan dilaporkan pihak LBH ke DinasTenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Riau. Sedangkan 2 pengaduan lainnya tidak dilaporkan, dikarenakan kekhawatiran pekerja akan mendapatkan tekanan atau intimidasi bahkan pemutusan hubungan kerja dari Perusahaan.

"Hal ini menjadi catatan LBH Pekanbaru terhadap kesejahteraan buruh /Pekerja. Dan ada 1 pengaduan dari Petugas Kebersihan (Penyapu Jalan) Kabupaten Bengkalis sekitar200 Petugas Kebersihan tidak mendapatkan THR. Kita akan meminta klarifikasi dari Pemerintah Kabupaten Bengkalis.

LBH Pekanbaru pun merilis 6 pengaduan tersebut:

1. PT Riau Perkasa Steel (Kab. Kampar). Perusahaan tidak memberikan THR kepada sekitar 100 Pekerjanya.

2. Universitas Abdurrab (Kota Pekanbaru). Pihak Universitas telah memberikan THR, akan tetapi tidak sesuai dengan Permenaker No 6 Tahun 2016, ada sekitar 200 Pekerja yang diberikan THR paling tinggi 75% dari Ketentuan.

3. PT Buana Citra Perkasa (Kab. Bengkalis). Perusahaan tidak memberikan THR kepada sekitar 65 Pekerjanya.

4. PT BPR Fianka Rezalina Fatma (Kota Pekanbaru). Perusahaan telah memberikan THR, akan tetapi tidak sesuai dengan Permenaker No 6 Tahun 2016.

5. PT Andesta Mandiri Indonesia (Kota Pekanbaru), merupakan perusahaan outsourcing. Telah memberikan THR, tetapi tidak sesuai dengan Permenaker No 6 Tahun 2016.

6. CV Jasa Karya Pratama (Kab. Indragiri Hilir). Perusahaan tidak memberikan THR.

Dalam penanganannya, LBH Pekanbaru telah menyurati Perusahaan tersebut agar Perusahaan memberikan Klarifikasi dan membayarkan Kewajibannya sesuai dengan Ketentuan yang berlaku.

Namun, hal tersebut tidak ditanggapi oleh Pengusaha yang diduga melanggar Permenaker no 6 tahun 2016.

Surat tersebut juga telah ditembuskan Ke Dinas Tenaga Kerja Kab /Kota dan juga Provinsi Riau.

Melihat banyaknya permasalahan yang menjadi sorotan berkaitan dengan THR serta implementasi dari Permenaker No. 6 Tahun 2016 tentang THR, LBH Pekanbaru akan melakukan advokasi lanjutan.

"Advokasi lanjutan dilakukan dengan harapan munculnya perubahan kebijakan tentang THR yang lebih melindungi pekerja/buruh untuk mendapatkan hak mereka akan THR yang dilindungi dengan payung hukum yang kuat," urainya.

Berdasarkan pengaduan tersebut, LBH Pekanbaru akan melaporkan hal ini ke Dinas TenagaKerja dan Transmigrasi Provinsi Riau yang juga merupakan Pengawas Ketenagakerjaan.

Selain hal tersebut, LBH Pekanbaru juga meminta Pemerintah RI melalui Kementerian Ketenagakerjaan untuk memberikan perlindungan atau jaminan terhadap pekerja/buruh dengan status PKWT (kontrak) akan hak mereka mendapatkan THR jika terjadi Pemutusan Hubungan Kerja menjelang hari raya keagamaan.

LBH juga mendesak agar Kementerian Ketenagakerjaan RI untuk memerintahkan Dinas Ketenagakerjaan di tingkat Provinsi dan Kota/Kabupaten untuk menindaklanjuti laporan pengaduan THR, baik yang masuk ke Posko Pengaduan THR Pekanbaru maupun ke Posko Pengaduan THR di Kemnaker dan Dinas Ketenagakerjaan Provinsi dan Kota/Kabupaten;.

"Juga meminta Dinas Ketenagakerjaan di tingkat Propinsi dan Kota/Kabupaten untuk menindaklanjuti pengaduan THR dan memberikan sanksi yang tegas sesuai dengan Pasal 10 dan Pasal 11 Permenaker No. 6 Tahun 2016," tegas Rian. [rls]

Laporkan Berita dan Peristiwa Sekitar Anda ! SMS ke : 081378705055 atau ke alamat email : redaksi@beritariau.com (harap lampirkan identitas diri).


Berita Terkait :

Komentar Via Facebook :