Terkait Penolakan Deklarator #2019gantipresiden

RJCI: Kelola perbedaan Politik dengan baik, Pilpres hanya 5 tahunan!

Penulis : admin | Senin, 27 Agustus 2018 - 23:51 WIB

Ketua Umum Relawan Jokowi Center Indonesia (RJCI) Raya Desmawanto | Istimewa

Beritariau.com, Pekanbaru - Relawan Jokowi Center Indonesia (RJCI) menyesalkan terjadinya kisruh dan bentrok antar massa pendukung dan kontra kedatangan pentolan gerakan #2019GantiPresiden, Neno Warisman (NW) di Pekanbaru, pada Sabtu (25/8/2018) lalu.

RJCI menilai, bentrok sebenarnya tak perlu terjadi jika semua pihak bisa menahan diri dan saling menghormati pilihan politik masing-masing secara elegan, dewasa dan bermartabat.

"Untuk apa kita sesama warga Riau harus ribut-ribut dan saling baku hantam. Ingat, pilpres hanya hajatan lima tahunan. Tapi, kita yang tinggal di Riau sampai anak cucu, mungkin juga kita saling bertetangga satu dengan lainnya. Kita semua harus bijak dalam mengelola perbedaan pilihan politik saat ini," kata Ketua Umum Rumah Nawacita RJCI, Raya Desmawanto MSi dalam keterangan tertulis, Senin (27/08/18).

Raya menegaskan,  RJCI memang tidak setuju adanya gerakan #2019GantiPresiden.

Secara tidak langsung, aksi tersebut adalah bagian dan gerakan politik kekuasaan dengan beragam motif dan agenda. Gerakan politik tersebut dinilai tendensius dan bisa menjurus pada kampanye dini yang tidak sesuai jadwal yang ditetapkan penyelenggara pemilu.

"Diksi 'ganti presiden' itu secara tidak langsung menganjurkan atau mengajak untuk tidak memilih calon presiden saat ini yakni Pak Jokowi. Ini kan sudah masuk dalam kategori kampanye. Tapi,  kalau sekadar mau deklarasi relawan untuk Pak Prabowo, ya silahkan saja, saya kira itu lebih fair dan jernih. Narasinya tidak problematik dan provokatif," tegas Raya.

Namun meski tidak setuju aksi tersebut,  RJCI tidak menurunkan massa untuk menghalangi kedatangan NW ke Pekanbaru.

RJCI menilai, polemik sah tidaknya serta implikasi kamtibmas akibat kegiatan tersebut, diserahkan sepenuhnya kepada aparat kepolisian dan pemerintah daerah.

"Kami menyerahkan sepenuhnya kewenangan tersebut kepada aparat penegak hukum dan pemerintah daerah. Untuk menghindari konflik dan benturan fisik, kami memang tidak ikut dalam front yang menolak kedatangan NW ke Pekanbaru. Tapi,  secara prinsip kami menolak kegiatan #2019GantiPresiden karena ekses sosialnya tidak baik. Kita bisa lihat riak-riak yang muncul di beberapa daerah," kata Raya.

Raya menegaskan, ketidaksetujuan bahkan ketidaksukaan sebagian masyarakat kepada pemerintahan Presiden Jokowi adalah hal wajar dalam iklim demokrasi saat ini. Namun, jangan sampai ketidaksukaan itu mengandung ujaran kebencian dan fitnah.

"Untuk jadi presiden, tidak butuh dukungan 100 persen pemilih. Cukup didukung separuh ditambah satu dari jumlah pemilih warga negara Indonesia. Jadi, wajar saja jika tak semua suka dengan presiden yang dipilih. Mohon maaf, nabi saja tidak disukai oleh semua orang, apalagi cuma manusia biasa," tegas Raya.

Dijelaskannya, sebagai organ relawan nasional pemenangan pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin yang berkantor pusat di Pekanbaru, Riau serta memiliki cabang kepengurusan di sejumlah provinsi di Tanah Air, RJCI mengajak agar kelompok yang pro dan kontra dengan pemerintahan Jokowi bisa lebih sejuk dalam mengekspresikan dukungannya.

Pengerahan aksi-aksi massa sedapat mungkin bisa dihindari, apalagi jika hal tersebut dapat mengganggu aktivitas publik.

"Pesan yang disampaikan selalu oleh Presiden Jokowi adalah bahwa politik itu adalah pesta kegembiraan. Pesta merayakan perbedaan.  Bukan sebaliknya menebar ketakutan dan ancaman. Jika ketakutan dan wajah marah-marah yang ditonjolkan, maka kita sendiri yang rugi. Rakyatlah yang harus jadi pemenang dalam setiap kontestasi politik," pungkas Raya. [red]

Laporkan Berita dan Peristiwa Sekitar Anda ! SMS ke : 081378705055 atau ke alamat email : redaksi@beritariau.com (harap lampirkan identitas diri).


Berita Terkait :

Komentar Via Facebook :