Kemenhut Apresiasi Kolaborasi Penanganan Karhutla di Siak, Luas Terbakar Capai 273 Hektare

Beritariau.com, Siak -- Kementerian Kehutanan mengapresiasi kolaborasi seluruh pihak dalam menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Siak, Provinsi Riau.
Apresiasi tersebut disampaikan Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan Kementerian Kehutanan RI, Thomas Nifinluri, saat melakukan kunjungan ke Kabupaten Siak, Jumat (11/9/2026).
Thomas menilai penanganan karhutla di Siak dapat berjalan karena adanya kerja sama dan semangat gotong royong antara pemerintah daerah, aparat, instansi terkait, perusahaan hingga masyarakat.
“Kami mendapat laporan, kerja sama dan kolaborasi gotong royongnya sangat luar biasa. Memang kerja-kerja seperti ini yang seharusnya terus digelorakan karena menjadi kunci dalam pengendalian karhutla,” kata Thomas.
Menurutnya, Siak merupakan salah satu wilayah yang membutuhkan perhatian serius dalam pengendalian karhutla. Hal itu tidak terlepas dari luasnya kawasan hidrologi gambut yang memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap kebakaran.
“Memang penting memperhatikan peta kawasan hidrologi gambut karena Kabupaten Siak merupakan daerah yang rawan karhutla. Kami sangat apresiasi kepada seluruh pihak yang ikut terlibat dalam pengendalian karhutla, luar biasa sekali,” ujarnya.
Kemenhut Siapkan Strategi Cegah Asap
Thomas mengatakan kondisi musim kemarau menjadi perhatian pemerintah. Berdasarkan prediksi BMKG, puncak musim kemarau berlangsung pada September dan berpotensi berlanjut hingga awal 2027.
Karena itu, Kementerian Kehutanan akan menyiapkan sejumlah langkah terukur untuk mencegah meluasnya karhutla dan mengantisipasi munculnya kabut asap di wilayah Siak.
“Kita akan siapkan strategi, mulai dari modifikasi cuaca, bahkan skema pemantauan darat dan udara dengan mengerahkan sumber daya yang ada,” ungkapnya.
Pemerintah pusat bersama pemerintah daerah dan seluruh unsur terkait diharapkan dapat memperkuat langkah pencegahan sekaligus mempercepat penanganan apabila ditemukan titik api.
Pemkab Siak Minta Dukungan Pemerintah Pusat
Sebelumnya, Wakil Bupati Siak Syamsurizal memaparkan kondisi penanganan karhutla di lapangan kepada jajaran Kementerian Kehutanan. Dalam kesempatan tersebut, Pemkab Siak juga menyerahkan dokumen permohonan dukungan untuk penanganan karhutla di wilayah tersebut.
Syamsurizal mengatakan sebagian besar titik kebakaran berada di lahan gambut dan kawasan hutan. Kondisi tersebut membuat penanganan membutuhkan strategi khusus serta dukungan sarana dan prasarana yang memadai.
Terlebih, pemerintah daerah masih menghadapi keterbatasan peralatan, logistik dan anggaran operasional untuk menangani kebakaran yang terjadi di sejumlah lokasi secara bersamaan.
“Kami bekerja seikhlas-ikhlasnya tanpa memandang bulu, kami berusaha untuk bagaimana agar api segera padam. Karena yang kami jaga adalah keselamatan masyarakat sekaligus kawasan hutan tempat satwa tinggal yang juga menjadi aset negara,” ucap Syamsurizal.
Ia berharap kunjungan Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan Kementerian Kehutanan tersebut dapat menjadi ruang diskusi sekaligus membuka jalan bagi penguatan dukungan pemerintah pusat terhadap penanganan karhutla di Siak.
“ Kami berharap kunjungan ini menjadi jalan keluar bagi persoalan yang kami hadapi di lapangan. Penanganan karhutla di Siak kami lakukan secara gotong royong bersama pemerintah daerah, TNI, Polri, Manggala Agni, BPBD, perusahaan hingga masyarakat,” katanya.
Karhutla Siak Capai 273 Hektare
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Siak Novendra Kasmara mengungkapkan, hingga 10 September 2026 luas lahan yang terbakar akibat karhutla di Kabupaten Siak telah mencapai 273,423 hektare.
Dari luasan tersebut, sebanyak 111,33 hektare berada di kawasan hutan. Sementara sisanya merupakan lahan masyarakat.
Penanganan karhutla di Siak telah dilakukan secara terpadu sejak status siaga ditetapkan pada Februari 2026. Pemerintah daerah membentuk Satgas Karhutla yang diperkuat dengan patroli, kegiatan mitigasi serta pemantauan dan pelaporan hotspot maupun fire spot secara berkala.
Laporan kondisi karhutla tersebut diteruskan kepada pemerintah provinsi hingga Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebagai bagian dari upaya mempercepat penanganan.
Namun, memasuki Agustus hingga September 2026, eskalasi karhutla mengalami peningkatan. Sejumlah wilayah yang menjadi perhatian di antaranya kawasan Taman Nasional Zamrud, Kampung Dayun, Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu hingga Tasik Betung.
Kondisi tersebut membuat personel maupun peralatan penanganan harus dibagi untuk menangani kebakaran di beberapa lokasi dalam waktu bersamaan.
“Tantangan terbesar di lapangan adalah keterbatasan anggaran, alat berat, logistik, serta kebutuhan operasional untuk penanganan kebakaran di lahan gambut,” ujar Novendra.
Dengan meningkatnya potensi karhutla selama musim kemarau, penguatan sinergi antarlembaga dinilai menjadi kunci untuk mencegah kebakaran meluas. Dukungan pemerintah pusat diharapkan dapat memperkuat kemampuan daerah dalam melakukan pencegahan, pemantauan hingga pemadaman karhutla di Kabupaten Siak. (*)

